Tiga Proyek Besar Umat Manusia



1. Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar 

Bahwa nilai diri ini awal mulanya hanya tercipta dari setetes air mani yang hina. Dipancarkan dari tulang sulbi seorang ayah kemudian ditampung di rahim seorang ibu. Selama sembilan bulan ia diolah melalui proses maha halus nan super canggih, terbentuklah zygot hingga menjadi janin bayi yang sempurna. Hanya dari tetes air hina itu, terbentuklah sosok fisik kita yang gateng dan cantik. Yang tinggi dan berwibawa. Yang pandai dan kaya. Dari setetes air hina itu, muncullah diri kita yang gagah-gagah dan unggul. Setetes air hina itu menjelma ke dalam wujud orang Eropa yang tinggi bermata biru dan berkulit putih, membentuk fisik orang Afrika yang kekar dan berkulit legam, membentuk ciri ras Asia yang bermata sipit, berkulit langsat dan coklat. Setetes air hina itu kemudian nampak dalam wujud seekor jerapah badannya yang tinggi menjulang, membentuk seekor semut yang kecil, mewujud fisik gajah yang besar, dst. Lalu siapakah kreator ulung di balik proses penciptaan tersebut? Siapakah Sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu? Dialah ALLAH Yang Maha Agung. Dengan kuasaNYA, segala kerumitan mekanis pembuatan makhlukNYA diproses tanpa suara dan tak terlihat. Maha Besar ALLAH. Lalu apa balas budi kita sebagai rasa syukur atas segala pemberianNYA yang gratis tanpa dipungut biaya?? Alih-alih berterimakasih, kita malah seringkali membangkang terhadap aturanNYA dan mengabaikan keberadaanNYA. Tanah, air, udara, sawah, ternak, tumbuhan, hewan, buah-buahan, hasil tambang, minyak, seluruh sumber daya alam yang ada di bumi ini kita ambil, kita rebut dan kita nikmati. Semuanya itu milik ALLAH. Semuanya itu ciptaan ALLAH. Alangkah naifnya kalau kita hanya berusaha merebut, mengambil dan menikmati ciptaanNYA sementara ALLAH sang Pemilik dan PenciptaNYA kita lupakan?? Hanya senang barangNYA namun tidak mempedulikan pemilik barang yakni ALLAH. Ini tidak benar. Harus diubah. Kita boleh senang dan merebut barang-barang ciptaan ALLAH, tapi juga harus senang dan cinta kepada pemilik dan pencipta barang-barang tersebut yakni, ALLAH. Lalu bagaimana agar bisa cinta kepada ALLAH?? Kita harus mengenalNYA. Mari kita ”Mengenal ALLAH Secara Mendekat dan Mendasar”. Sungguh kita manusia wajib mengenalNYA secara mendekat dan mendasar. Kita kepada Allah seperti halnya ikan kepada air. Kemanapun ikan bergerak selalu diliputi dan digenangi air. Tetapi si ikan tidak merasa digenangi air. Padahal kalau air itu berbentuk es padat, tentu si ikan tidak akan bisa bertempat/berenang. Begitulah. Kita hidup ini digenangi zat Allah yang memenuhi jagad langit dan bumi. Tidak ada ruang kosong tersisa. Semuanya digenangi oleh kebesaran, keagungan, kekuasaan zat ALLAH Yang Maha Besar dan Agung. Tapi kebanyakan manusia tidak merasakan hal itu. Seolah-olah kosong tidak ada apa-apa. Padahal benar-benar ada zat Allah yang menggenangi jagad ini. Untungnya ALLAH tidak berbentuk zat padat. Sebab andaikan berbentuk padat, maka kita semua tidak akan bisa bertempat. Ajakan ini menuntun kita pada sebuah latihan untuk senantiasa merasakan keberadaanNYA di setiap gerak langkah. Bahkan di setiap hembusan nafas kita. Berangkat dari rumah ke kantor, berjalan, naik kendaraan, sedang berdiskusi, kita semuanya sedang digenangi ALLAH. Bagai spon yang terendam air. Maka keberadaan kita ini menjadi nisbi oleh keberadaan ALLAH. ”Aku lebih dekat kepada manusia daripada dekatnya leher dengan urat nadi”, firman ALLAH. Sangat dekat. Sifat dasar Allah adalah Pengasih dan Penyayang, maka jika kita sudah berdekatan denganNYA, sifat-sifatNYA akan menular ke kita. Ibarat jika kita berdekatan dengan penjual minyak wangi, bau-bauan dari minyak wangi akan melekat di badan kita. Sebaliknya kalau kita dekat dengan Syetan yang terbuat dari panas api, maka diri ini akan mudah marah. Hati terasa panas dan gampang dikuasai amarah. Demikianlah jika kita dekat kepada ALLAH, niscaya kita akan “terpengaruh” sifat-sifat ALLAH yang ArRahman dan ArRahiim. Pengasih dan Penyayang. Maka jiwa kita akan menjadi penuh kasih dan saying. Hilang sifat iri, dengki, hasud, riya, dendam dan amarah. Berganti jiwa kasih, pemaaf, penolong dan dermawan. Contoh lain adalah seperti saat kita melihat jam dinding. Kita hanya mampu melihat jarum jam dan angka saja. Padahal sebelum jarum jam dan angka, ada kaca yang membatasi pandangan kita. Tapi karena kaca itu begitu bening/transparan, sehingga mata kita tidak melihat kaca. Seolah kita meniadakan kaca. Padahal kaca itu benar-benar ada. Begitulah ALLAH ada menggenangi kita semua. Namun karena ALLAH Maha Suci sehingga ia tak tertangkap oleh indera mata kita. Sesungguhnya sebelum mata kita menangkap obyek di depan kita, ada ALLAH yang menggenangi. Tapi karena ia ghaib, maka ia seolah-olah tidak ada. Seolah kita menafikan keberadaan ALLAH diantara kita semua. Padahal ALLAH benar-benar ada. Sesungguhnya saat ada 2 orang berhadapan, diantara mereka itu ada ALLAH. Tapi saking suciNYA ALLAH, Subhaanallaah, Latif, sehingga mata telanjang tidak bisa melihatNYA dan langsung melihat orang di depannya. Mata biasa tidak bisa melihat ALLAH, maka seharusnya mata hati dan sinar imanlah yang bisa merasakan keberadaan ALLAH. Jika mampu berlaku demikian, maka seseorang tidak akan berani menghina orang di depannya. Karena sebelum menghina orang di depannya, maka sudah terlebih dulu menghina ALLAH. Karena sebelum dia dan orang yang dihina ada ALLAH. Jika kita sudah mengenal Allah secara mendekat dan mendasar, diri ini akan ketularan sifat-sifat Allah. Kita akan terbebas dari sifat marah, dendam, iri, dengki, benci, hasud, sombong, bohong, riya, ujub/pamrih, dll. Yang muncul dari diri kita hanya sifat kasih sayang, seperti sifat Allah AR RAHMAN (Pengasih) dan AR RAHIIM (Penyayang). Saling menghormati, mencintai sesama manusia, menolong, berkorban untuk kepentingan saudara sebangsanya. Misalnya kita hendak marah, memaki, meremehkan saudara/teman karena disulut perasaan yang kesal, kita akan langsung ingat bahwa ALLAH menggenangi antara kita dan saudara itu. Sehingga kita akan mengurungkan rasa marah, tidak berani meremehkan dan tidak jadi memaki-maki. Karena sebelum kita memarahi memaki saudara/teman kita itu, rasa marah dan kata makian kita akan ‘menyentuh’ ALLAH terlebih dulu. Tentu akan sangat celaka bila berani meremehkan, memaki dan marah kepada ALLAH. Penyebab situasi politik Indonesia dan dunia yang senantiasa panas, saling hina, saling serang, saling menjatuhkan, saling mencari kelemahan lawan, ini semua karena masing-masing pihak tidak merasa diliputi digenangi kebesaran dzat ALLAH. Akhirnya jauh dari sifat kasih ALLAH. Maka ajakan saya (Gus Glory) adalah, mari Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar. Jika semua umat manusia sudah mengenalNYA, maka semuanya akan saling bantu menolong. Adanya hanya sifat kasih dan saling menyayangi diantara sesama bangsa manusia. Kualitas hidup akan sejahtera dunia akhirat. Impian tentang tatanan dunia yang damai tanpa kekerasan dapat dicapai segera. Stabilitas negara dengan dinamika politik yang harmonis dan sinergis akan mewujudkan pembangunan Indonesia sejahtera. Para elit politik akan berlomba berusaha mendahulukan kepentingan kemanusiaan, kenegaraan, dan kebangsaan. Semua aktifitas politik kenegaraan dilaksanakan dengan senantiasa merasakan bahwa ALLAH meliputi menggenangi jagad ini.

2. Melatih Diri Untuk Mengetahui Musuh Ghaib Syetan

Pertengkaran dan permusuhan yang semakin tajam antar manusia, individu, maupun kelompok dipicu oleh kesalahan manusia dalam memahami dan mengenali siapa sesungguhnya musuh mereka. Bahwa sesungguhnya musuh bangsa manusia adalah syetan. Bukan manusia antar manusia. Syetan sekali-kali tidak tinggal di hutan, lautan, angkasa luar, atau di tempat-tempat keramat. Syetan tinggal dan beroperasi di dalam hati setiap manusia untuk keperluan menjerumuskan manusia kepad dosa dan kesalahan. Syetan selalu mendatangi manusia dari kiri dari kanan, dari muka dan dari belakang. Ia terus berusaha membisiki, menasehati, mengintai dari tempat yang tidak diketahui manusia, menguasai sehingga melupakan kita dari ingatan kepada ALLAH. Kalau manusia sudah dikuasai syetan, ibarat penumpang mobil yang sudah dikuasai sopir. Belok kanan, belok kiri, ikut apa kata sopir. Demikian pula kalau manusia dikuasai setan, apa saja yang muncul dari dalam hatinya selalu diikuti. Seolah-olah itu kehendak sendiri. Padahal itu kehendak dari bisikan setan. Misalnya ingin marah, menghina, mencaci-maki, menjegal karir teman, memfitnah demi kekuasaan, dan seterusnya. Semuanya muncul dari bisikan hati, terasa seolah-olah suara hati sendiri. Padahal itu bisikan setan, terpaksa manusia mengikuti begitu saja. Padahal Tuhan berfirman, “Hai anak cucu Adam, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata bagimu.” Karena syetan ghaib dan operasi kerjanya di dalam hati, maka setiap keinginan/kutikan jahat yang muncul dari hati kita, seolah-olah dari diri kita sendiri. Karena tidak sadar bahwa itu bisikan/nasehat syetan, terpaksa banyak manusia menuruti nasehat jahat tersebut. Akhirnya timbul kasus kriminalitas seperti korupsi, pembunuhan, mutilasi, perampokan, pencurian, peperangan, kejahatan seksual, perdagangan manusia, kekerasan rumah tangga, kanibalisme, saling mengolok, kerusuhan SARA, fitnah, saling menjatuhkan antar sesama, mementingkan urusan pribadi dan keluarganya daripada urusan kepentingan umat dst. Syetan mampu membuat tipuan yang begitu halus dan lihai. Seolah-olah bisikan Syetan itu hal yang benar. Sehingga manusia sering menganggap benar perbuatannya. Terpaksa semua orang merasa benar dan gampang menyalahkan orang lain. Kelompok satu mengaku benar, kelompok lainnya juga mengaku paling benar. Tidak ada yang mau mengalah. Atau minimal mengakui bahwa diri/kelompoknya ada kekurangan. Akhirnya terjadi kondisi seperti sekarang ini. Saling ribut menyalahkan. Bangsa manusia diadu domba antar agama, antar bangsa, bentrok antar kelompok, antar partai politik, antar suku, antar ras, antar individu, sehingga tidak ada kerukunan sama sekali. Semuanya saling menuding. Membenarkan kelompoknya dan berusaha menjatuhkan kelompok lain. Itulah bukti kerja syetan dalam menyesatkan manusia. Bukti-bukti lain dari hasil kerja syetan bisa dilihat dari ragam dan meningkatnya kasus kriminalitas akhir-akhir ini. Seorang bapak tega menghamili anak sendiri. Suami yang memotong-motong tubuh istrinya menjadi 10 bagian. Seorang anak muda membantai seluruh anggota keluarganya hanya karena minta dibelikan sepeda motor belum terkabul. Ibu menjual anak perawannya ke pelacuran. Kasus traffickking, pelacuran anak, genosida, pembersihan etnis, dst. Bahkan Di China dan Taiwan, ada sebuah restoran yang menyajikan menu sup orok bayi. Katanya menu itu bisa meningkatkan metabolisme tubuh sekaligus berfungsi sebagai obat kuat penambah nafsu syahwat. Na’uduzubillah. Andaikan masih fitrah manusia biasa, tentu tak akan terjadi perbuatan-perbuatan yang nista dan bejat itu. Tapi karena diri dan jiwa manusia sudah dikuasai musuh syetan, terpaksa perbuatan itu dituruti begitu saja. Keadaan seperti ini menunjukkan kondisi psikologis derajat umat sudah melorot drastis. Jangankan derajat kemanusiaan, mencapai taraf kehewanan pun tidak. Manusia sudah jadi kesetanan. Untuk itu, ajakan saya (Gus Glory) adalah mari “Melatih Diri Mengetahui Musuh Ghaib Syetan”. Musuh kita bukan sesama manusia. Tapi musuh kita adalah syetan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Kalau kita senantiasa melatih diri mengetahui musuh ghaib syetan, maka setiap kutikan/bisikan/keinginan yang muncul dari hati ini hendaklah di saring dulu. Jangan langsung diturut atau diikuti. Karena bisa jadi keinginan tersebut bersumber dari bisikan/nasehat syetan. Misalnya ingin marah, dendam, hasud, iri, dengki, sombong, bohong, pamrih, mementingkan pribadi, tega mengalahkan diri lain, melupakan Allah, meremehkan bangsa yang miskin, mengutamakan dunia melalaikan akhirat dst, itu adalah dari syetan. Jangan sekali-kali dituruti. Demikian pula saat muncul desakan hati ingin menyalahkan dan menghakimi orang yang salah. Mari kita balik polanya. Yang biasanya menjadikan pelaku kesalahan sebagai obyek untuk dihakimi, diubah dengan memposisikan setan sebagai pelaku. Manusia adalah korban. Meskipun secara lahir dia pelaku kejahatan. Bila kita sudah melatih diri mengetahui musuh ghaib syetan, maka kita tidak akan mudah marah atau mengolok ketika melihat saudara sebangsa manusia yang terlibat dosa/salah. Karena kita sadar setiap diri bersifat lemah dan apes. Sehingga sering kalah tak kuat menolak saat dibisiki syetan untuk berbuat jahat. Akhirnya di hati kita akan timbul rasa sayang dan kasihan kepada orang yang berbuat jahat. Kemudian kita akan memperingatkannya dan mendoakannya agar terlepas dari cengkeraman syetan. Ibarat kita melihat seorang anak yang tercebur sumur, kita akan langsung cepat-cepat menyelamatkan anak itu. Bukan malah melemparinya dengan batu supaya lekas tenggelam dan mati. Ibarat ketika melihat rumah yang terbakar, kita akan segera berupaya memadamkan api itu dengan menyiramkan air. Bukan malah menuangi bensin/minyak tanah agar rumah yang terbakar itu semakin membara. Demikianlah. Kalau kita melihat saudara sebangsa yang salah atau terlibat dosa, jangan kemudian dihina, dicaci maki, diperbincangkan, dimusuhi dan dijauhi. Itu sama saja dengan menyiram bensin ke rumah yang terbakar. Orang yang dosa/salah kalau kita hina, kita musuhi dan kita jauhi, akan semakin bertambah dosa kesalahannya. Ibarat kita melihat ada seekor burung yang dicengkeram harimau. Kalau mau menyelamatkan, jangan burungnya yang kita seret-seret, tapi harimaunya yang harus kita pukul agar segera melepaskan burung yang ada dalam cengkeramannya. Tindakan yang benar bila melihat saudara sebangsa manusia yang dosa adalah lekas doakan dan beri peringatan dengan pendekatan kasih nan ikhlas. Minta kepada ALLAH agar syetan yang menguasai sedulur bangsa manusia itu segera lepas, sehingga manusianya insaf kemudan sadar kembali ke jalan yang benar. Reformasi menjadi tidak berada di jalur yang benar karena dimaknai dan dipraktikkan sebagai reformasi diri lain. Sementara diri atau kelompoknya sendiri tidak pernah direformasi. Gajah di pelupuk mata tidak tampak. Tapi kuman di seberang lautan nampak jelas. Sulit mendeteksi dan mengakui kesalahan/kekurangan diri dan kelompoknya. Tapi sangat piawai dan teliti dalam menemukan kesalahan orang/kelompok lain. Sekecil apapun kesalahan itu. Maka ajakan kami adalah bagaimana mendahulukan reformasi untuk diri sendiri sebelum mereformasi diri lain. Dengan cara jeli melatih diri mengetahui musuh ghaib kita semua, yakni syetan.

3. Menanam Keyakinan Dunia Akhirat

Dunia akhirat adalah satu paket kehidupan yang saling berkait. Sebagaimana ALLAH telah menciptakan segala sesuatu secara seimbang, adil dan sepadan. Seperti halnya ada kiri ada kanan. Ada pria dan wanita. Ada atas ada bawah. Ada miskin dan kaya. Ada sehat ada sakit. Ada hidup dan mati. Ada kehidupan dunia dan ada kehidupan akhirat. Dua sisi kehidupan yang harus dipikir, disikapi, dan dijalani secara adil seimbang. Jangan pincang memikirkan kehidupan dunia saja atau akhirat saja. Tidak bisa kita mengurusi kebutuhan dunia saja dan melupakan akhirat. Sebaliknya kita tidak bisa ke akhirat tanpa melalui kehidupan di dunia. Sukses dan gagal kita di akhirat, bergantung dari perjuangan dan upaya kita saat di dunia. Dunia akhirat ibarat buah pisang yang terdiri dari kulit dan isi. Kulit pisang adalah dunia. Isi pisang adalah akhirat. Keduanya sama penting berdasarkan fungsi dan manfaatnya. Kulit berfungsi melindungi higienitas dan keaslian rasa isi pisang. Namun begitu, isi pisang jauh lebih penting. Karena isi pisang adalah yang kita makan. Bukan kulitnya. Keduanya erat melekat. Tidak ada jarak yang memisahkan satu sama lain. Tidak mungkin kulit pisang ada di Lamongan, sedang isi pisang berada di London. Pastinya kulit pisang dan isi pisang menyatu dalam sebentuk buah yang utuh. Begitulah. Dunia dan akhirat sebenarnya sangat erat dekat. Seperti menempel dekatnya antara kulit pisang dengan isi pisang. Hanya saja kulit pisang membungkus isi pisang begitu rapat. Sehingga saking rapatnya kulit menutupi, isinya menjadi tidak kelihatan. Begitulah. Saking rapatnya kulit menut jangankan orang buta, kita yang memiliki penglihatan normal saja tidak mampu melihat isi pisang. Kita baru bisa melihat isi pisang kalau kulit pisang dikupas terlebih dulu. Begitulah. Kehidupan dunia ini sangat rapat menutup akhirat. Sehingga yang tersaji di depan kita hanya urusan seputar kehidupan materi dunia. Urusan persiapan kehidupan akhirat jarang mampir ke benak kita. Karena dunia langsung terlihat dan bisa dirasakan. Sementara akhirat belum terasa dan tidak bisa dilihat sekarang. Lapar dan haus di dunia langsung terasa. Miskin dan kaya di dunia bisa dilihat sekarang. Bangga dan malu di dunia dapat kita rasa sekarang. Kehujanan kepanasan karena tidak punya rumah di dunia, bisa kita rasakan sekarang. Sedih dan gembira di dunia semua dapat kita rasakan sekarang. Nikmat dan sengsara di dunia bisa dirasa saat ini juga. Hadiah dan hukuman di dunia bisa disaksikan sekarang. Tapi kalau kelaparan dan kehausan di akhirat, kita belum tahu. Miskin dan kaya di akhirat, kita belum dapat merasakan. Belum punya rumah di akhirat, kita belum dapat melihat. Hadiah dan ancaman di akhirat, belum bisa dibuktikan. Semua masih ghaib dan disamarkan. Karena urusan dunia begitu rapat menutupi perkara akhirat, terpaksa kita hanya mampu melihat dan berfikir yang lahir saja, yakni semua urusan dunia. Kita lupa bahwa di akhirat juga memerlukan persiapan yang harusnya difikirkan dari sekarang saat kita masih hidup di dunia. Jangan sampai kita lengah disesatkan syetan. Kita disibukkan urusan dunia hingga lupa persiapan akhirat. Kita ditakut-takuti kemiskinan sehingga enggan berbagi kepada sesama. Semua harta benda kita habiskan untuk kebutuhan dunia. Tidak ada yang terkirim untuk kehidupan akhirat. Jika ini yang terjadi, kita akan melarat di akhirat telantar bersama syetan yang umumnya disebut neraka. Neraka berasal dari kata-kata ‘celaka’ karena kita telantar di akhirat akibat tidak membawa bekal dari dunia. Maka ajakan dari saya (Gus Glory) adalah, mari Menanam Keyakinan Dunia Akhirat. Setiap kita berupaya memenuhi kebutuhan dunia, saat itu juga usahakan dapat memenuhi kebutuhan akhirat. Ingin sukses dan bangga di dunia, maka saat itu juga persiapkan sukses dan bangga di akhirat. Sudah punya rumah dan kendaraan di dunia, sudahkah kita sediakan kendaraan dan rumah di akhirat??? Sudah cukup makan dan berpakaian di dunia, apakah sudah cukup tersedia pakaian dan makanan kita di akhirat??? Karena kita percaya adanya kehidupan akhirat, maka sudah selayaknya kita persiapkan dari sekarang saat kita masih di dunia. Persiapan itu adalah sedekah harta, tenaga, jiwa, fikiran, untuk didermakan bagi kepentingan umat. Semakin banyak kepemilikian di dunia yang kita berikan, makin banyak pula hasil yang kita unduh di akhirat kelak. Kalau ingin melihat isi pisang, buka dan kupaslah kulit pisang itu terlebih dulu. Kalau ingin mengetahui akhirat, kurangilah kesenangan nikmat di dunia. Misalnya hendak membeli rumah di dunia seharga Rp. 70 juta. Jangan semua dari 70 juta itu yang dibelikan. Tapi cukup 30 juta saja yang dibelikan rumah dunia. Sisanya yang 40 juta dibelikan rumah di akhirat dengan cara dibagikan kepada fakir miskin, anak yatim, mengobatkan tetangga yang sakit, membangun jalan, menyumbang korban bencana, merenovasi gedung sekolah yang ambruk, dst. Kalau mau membeli pakaian seharga 100 ribu, cukuplah 40 ribu yang dibelikan. Sisanya yang 60 ribu, belikan seragam bagi anak yang tak mampu sekolah, dst. Konsep Iman A, B, C Untuk memudahkan kita dalam meneliti, mengukur dan membandingkan (benchmarking) kualitas kepercayaan kita tentang keyakinan dunia akhirat, maka berikut ini saya berikan rumus pembanding yang disebut “konsep IMAN A, B, C”. Iman A adalah iman dengan ukuran tipis/rendah. Iman B adalah iman dengan ukuran sedang. Iman C adalah iman dengan ukuran tebal/tinggi. Contoh pelasanaannya seperti ini. Misalnya dalam bekerja kita memperoleh hasil upah sebesar 4.000 rupiah. Jika kita memiliki Iman A iman yang rendah/tipis, hasil upah 4.000 tadi akan dibagi menjadi: 3.000 untuk kebutuhan hidup di dunia dan sisanya yang 1.000 disedekahkan untuk kebutuhan akhirat. Iman B iman yang sedang, hasil upah 4.000 rupiah akan dibagi menjadi: 2.000 untuk kebutuhan dunia, 2.000 untuk disedekahkan sebagai bekal hidup di akhirat. Jadi seimbang fifty-fifty. Iman C yang tinggi/tebal, hasil upah 4.000 rupiah akan dibagi menjadi: 1.ooo rupiah untuk kebutuhan dunia, 3.000 disedekahkan untuk kebutuhan akhirat. Dunia dijatah secukupnya karena hidup sementara. Sedang akhirat diperbanyak karena hidup lebih abadi dan selamanya. Di mana iman kita?? Masuk kategori Iman A; Iman B; atau Iman C ??? Biasanya yang umum terjadi, semua hasil usaha kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan di dunia. Kebutuhan akhirat terlupakan. Tidak tersisa sedikitpun dari hasil usaha kita yang tersedekahkan sebagai bekal hidup di akhirat. Artinya kita tidak masuk kategori iman manapun. Bahkan Iman A iman yang rendah/tipis saja, belum. Karena keyakinan iman akhirat belum tertanam dengan baik, maka terjadi kasus-kasus korupsi. Karena dipicu nafsu berlomba memperkaya diri dan keluarga di dunia dengan segala cara. Dibayangi ketakutan miskin di dunia sehingga enggan menempuh hidup sederhana. Maunya hidup enak dan serba mewah. Tidak berani melarat demi rakyat. Gaji berapapun dirasa tidak mencukupi sehingga korupsi menjadi hobi. Untuk itu saya mengajak agar kita semua segera mencari iman kita. Meneliti dan membandingkan kembali di mana posisi iman kita tentang kehidupan akhirat. Sebagai perbandingan, Profesor Yunus peraih Nobel pernah berujar bahwa 30 tahun lagi Indonesia bisa keluar dari kemiskinan bila mau/mampu menggunakan konsep Garmen Bank dengan benar. Namun bila mau serius menggunakan “Konsep Iman A, B, C” dengan pondasi kepercayaan akhirat, maka tidak perlu menunggi sampai 30 tahun. Dengan tekad bulat Bismillaahirrahmaanirrahiim, cukup 30 hari saja persoalan kemiskinan di Indonesia akan teratasi. Kesejahteraan, pemerataan dan keadilan sosial di Indonesia akan segera terwujud. InsyaAllah. Pelaksanaan Konsep Iman A, B, C ini bisa dimulai dari para anggota dewan yang terhormat. Selanjutnya diikuti para pejabat, pengusaha, dan seluruh lapisan masyarakat. Sisihkan gaji, tunjangan, kelebihan rejeki di dunia untuk kebutuhan bangsa, agama dan negara. Niati itu sebagai bekal hidup di akhirat. Dijamin negeri ini akan menjadi bangsa yang kuat, mandiri, bermartabat, dan diridhoi Allah dunia akhirat. Aamiin.