Opera Warga Dusun

Gus Adhim (Pimpinan Ponpes SPMAA Sumatera Selatan)

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang berdinas tugas merintis program layanan pendidikan berbasis alam dan lingkungan. Saya mengikhtiari misi ini di tengah pandemi wabah. Kondisi serba sulit, psikologi warga bumi yang terjangkit paranoid, dan ketidakpastian perkabaran. Tersugesti sedikit berat tapi saya harus berangkat. Sebagai konsekuensinya, sepertinya saya akan agak lama tinggal di area penugasan ini nanti karena kebijakan karantina kewilayahan.

Tempat saya bergiat terkoordinat di pedalaman tribal dengan ciri khas kearifan lokal masyarakat agrikultural. Kehidupan sehari saya di dusun ini mengingatkan saya pada drama ‘Keluarga Cemara’, sebuah telenovela yang populer menghiasi layar kaca hiburan generasi keluarga 90-an. Keluarga Cemara bersinematografi potret alami tentang daya juang bapak dan emak dalam mengelola anggota keluarga yang mudik ke desa, setelah usaha pekerjaan mereka mengalami cobaan di kota metropolitan. Peralihan kehidupan dari budaya urban perkotaan ke tradisi rural pedesaan tentu berliku dan perlu perjuangan adaptasi yang tidak ringan.

Saya juga menemukan aneka cerita pengalaman sebagaimana gambaran sinema ‘Rumah Masa Depan’. Tokoh protagonis yang selalu saya tunggu dalam setiap episode Minggu siang ini adalah Bayu dan Sangaji. Ada pula Bu Suwito, pemeran antagonis kejahatan yang dibawakan dengan baik oleh Mieke Wijaya, tokoh kepala desa yang sombong, hobi berbohong dan tidak suka menolong. Tokoh terakhir ini yang sangat saya hindari.

Dua drama telenovela ini mempertemukan rupa cerita sama; moral survival ketahanan keluarga ketika dihadapkan pada keterbatasan keadaan, situasi anomali, persinggungan peran kebaikan versus kejahatan dan tekanan dinamika kehidupan.

Kemarin pagi, saat menyambangi kebun cabai keluarga kami, saya mendapati Pak Hawnan, pekebun dari keluarga sederhana yang menjawat kebun ini, terduduk lesu sambil memegangi pipi. Ternyata ia sakit gigi. Saat saya tanya bagaimana kabar tanamannya, pak Hawnan tersenyum pendek. “Harga cabai sangat murah Gus, mungkin hasil jual panen ini tak bisa mengembalikan modal awal,” katanya nelangsa.

Tapi di balik sedihnya ini, ternyata ia masih bisa bercerita gembira. “Alhamdulillaah Gus, keluarga kami sehat aman berkecukupan bahan pangan dan tidak perlu takut kalut seperti warga kota yang terancam kehilangan pencaharian dan kekurangan makan akibat sebaran wabah penyakitan.”

Alhamdulillaah. Saya bersyukur mendengarkan tutur Pak Hawnan. Pelajaran yang saya dapatkan dari bapak ini adalah keluasan perasaan, ciri khas petani pekebun yang ikhlas. Selain mental tangguh di saat situasi sulit dan rejeki sempit. Ia tidak menyalahkan keadaan dan tetap tanggap menyiapkan semua kemungkinan. Ketika saya tanya bagaimana jika nanti terjadi kelangkaan pangan, ia menjawab mantap, “Saya masih bisa bertanam di lahan perkebunan atau cari dedaunan di hutan.”

Di awal keberangkatan penugasan, saya sempat terbersit kegalauan. Berpikir tentang akses dan jaminan kehidupan di pedalaman saat situasi serba tak pasti sekarang ini. Namun ketika diingatkan pelajaran Pak Hawnan, serta berkaca pada drama keluarga dalam dua serial televisi tadi, saya justru bersyukur tugas disini.

Syukur pertama, saya berada pada suasana desa yang meski berdinamika ragam karakter manusianya, tetapi tetap saja mereka beradiluhung desa. Selalu menolong dalam gotong royong, bersuasana keluarga, peduli asertif pada tetangga dan berkeikhlasan ‘neriman’ ketika keadaan kesulitan. Padahal jika ditera, mereka inilah arus bawah yang paling merasakan serba kebingungan dengan keadaan kekinian.

Pelajaran kedua, saya berasumsi saat situasi sulit ini, ternyata banyak keluarga urban kota ingin kembali mudik ke desa. Setidaknya ketersediaan daya dukung keluarga dan kontijensi ketahanan pangan masih relatif terjamin di desa, dari hasil produksi berkebun dan bertani terutama.

Ketiga, sudah teruji dan terbukti saat darurat, kondisi terburuk perang atau bencana misalnya, desa masih bisa menjadi zona penyangga penghidupan kota. Fakta terkini, saat wabah mengganas, desa menjadi wilayah yang relatif bebas dari sebaran epidemi.

Syukur keempat, warga desa relatif tenang menghadapi kondisi yang tegang. Di tengah kronik politik bangsa dan konflik dunia bar-bar yang terpolar liar, pekebun dusun dan petani kami tetap rukun bersilaturahim. Manakala ‘opera sabun trias politica’ dipanggungkan sedemikian jenaka fatsun lucunya, warga desa tetap serius semua mematuhi protokol negara. Tegak lurus ketaatannya tanpa unjuk rasa.

Alhamdulillaah lagi, memasuki bulan suci Ramadhan ini, warga desa kami kini terbiasa berpola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), rajin bermasker, rutin berbasuh hand sanitizer, —sesuatu yang dulu banyak belum tahu. Paling penting kini lebih memperhatikan kelestarian alam dan kebersihan lingkungan, sebagaiman pesan semangat konservasi dalam dua drama televisi tadi.

Opera drama bertema desa yang saya suka yakni Keluarga Cemara dan Rumah Masa Depan, ternyata ada betulan. Diantaranya pengalaman bersua keluarga Pak Hawnan saat penugasan di pedalaman bersama keluarga saat ini.

Marhaban Ya Ramadan, saya berharap semua warga desa bernama nusantara ini selalu dijaga Ilahi. Dari dusun bersama famili pekebun saya mendoakan semoga kita disehat-sucikan dengan sabun pertaubatan dan santun persaudaraan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *