INDONESIA DAMAI, DUNIA MERDEKA.

Lelaki paru baya itu terisak tak kuasa menahan air mata, menyaksikan dan merasakan derita saudara sebangsanya yang tergambar jelas dalam siir saat ia senandungkan. Liriknya bagai goresan luka dengan tinta darah sesamanya.

Lutfi Bouchnak, tidak begitu familier di telinga kita, tapi tidak untuk warga Timur Tengah. “Ambillah semua kedudukan, semua jabatan… tapi biarkan negeriku, jangan kau usik”. Potongan syiir Ana Muwatin yang ia lantunkan dengan tangisan dan jeritan.

Sesekali lihatlah video clip lagu yang berjudul “Atouna El Toufouli”. Rintihan dan harapan anak korban perang. “wahai semesta, tanah kami telah hancur. Tanah kami direngut kebebasannya”…
Tubuhnya berlubang, dagingnya mudah sayat, darahnya tak cukup untuk sekedar mengalir, karena ia masih anak, masih balita, masih munggil.

Anak korban perang, bayangkan anak kita yang seharusnya masih dalam timangan istrimu, atau keluargamu tetapi sekarang dalam kondisi sendiri diantara reruntuhan gedung dan tertimpa bangunan.

Kalaupun mereka selamat, sebagian tanpa keluarga, kondisi cacat, tidak punya rumah, tanpa pendidikan dan masa depan, tidak lagi bisa ceria untuk sekedar bermanja bersama Ibunya.

Mewakili derita semua rakyat jelata dibelahan bumi sana, timur tengah, amerika latin, afrika, asia, cina, eropa. Mereka semua memimpikan negri yang damai tanpa tragedi dan tipu-tipu. Memimpikan persaudaranaan antar bangsa.

Wahai dunia… Bumiku yang merdeka telah dirampas… tanahku kecil, seperti aku yang mungil Berilah kami perdamaian dan Berikanlah masa kanak-kanak kami… Atouna El Toufouli)

When man is killing man but no one knows just why. Love and peace… Mereka saling membunuh tanpa tau apa sebabnya. White Lion.

Baginya, Indonesia adalah negri impiannya (mungkin), dulu. Negeri dengan tanah subur dikelola sendiri oleh petani, rakyatnya makmur taat ibadah, rukun damai antar suku rasa dan agama, gotong royong, pemimpin adil jujur dan dicintai rakyatnya.

Karena, kini, negara mereka porak poranda oleh konflik berkepanjangan, musuhnya bukan bangsa lain, tetapi saudaranya sendiri, bangsanya sendiri, kaumnya sendiri, bahkan keluarganya sendiri. Sunguh ironi, miris. Rakyatnya tercerai berai mencari suaka dimana-mana.

Dari Amerika latin, ratapan kepedihan dan penderitaan kehilangan begitu terasa tapi tidak mampu berbuat apa-apa akhirnya hanya melalui tiupan seruling Leo Rojas dalam tajuk the last of the mohican, mereka “melawan”.

Begitu juga dibalik kemerduan tiap liukan seruling Alexandro Querevalú yang begitu manja, membisik hati membawa suasana ‘kepunahan’ saudara suku indian, pembantaian dan pembunuhan yang menyisakan cerita duka dan lara.

Derita saudara yang kini ada di timur tengah, konflik di afrika, myanmar, india, hongkong, penindasan yang didetita suku uigur dan di semua negara. Memang tidak sedang terjadi di negeri kita Indonesia. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, semua bisa terjadi.

Bahkan tidak sedikit yang berfikir sesungguhnya nada-nada derita itu kini sumbang terdengar di negara kita Indonesia. Apalagi rakyat-rakyat yang “garuda”nya masih gagah, warga yang hatinya bersih masih merah putih dan tidak terpikat goda dunia. Ana Muwatin Timur Tengah pun terasa di Indonesia.

Yang sedang berebut kuasa dunia, yang menang sekalipun, apalagi yang kalah mereka sejatinya sedang terperdaya, keduanya sama-sama kalah. Rakyat (manusia) menjadi korbanya. Keretakan persaudaraaan, saling intimidasi, mengajarkan pertengakran dan permusuhan, ribuan nyawa dipertaruhkan.

Merasa ada tujuan maha penting dibalik pertumpahan darah sesama manusia. Faktanya tidak, tidak jauh seputar uang, sumber daya alam dan kekuasaaan. Apapun dasar semua kekejaman tersebut, itu semua karena hasli kerja musuh nyata bangsa manusia, setan.

Iya semua itu karena manusia masih menjadikan manusia sebagai musuh/kompetitor. Ujungnya manusia kembali menjadi korban. Belum mampu mengempur sekat ras, suku, agama dan negara. Manusia diperbudak untuk saling berkucuran darah.

Manusia selalu menjadi korban. Terluka, berdarah, cacat, bencana, kesakitan sampai hilang nyawa. Karena sudah dikuasai setan, setega itu melukai sesamanya. Karena manusia sudah kesetanan sampai tega menghianati negri dan saudaramu sendiri

Syiir dan seruling mereka kudengar perlahan berulang ulang, dengan lirih hatiku merajut asa, berdoa bagaimana agar tidak terjadi pada negeriku Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Mementingkan kepentingan pribadi, menumpuk sumber daya materi tanpa perduli kesulitan dan pendetiaan sesama nya juga 11, 12 dengan pertumpahan darah. Itu juga bagian dari keberhasilan setan menyusup pribadi kita

Mari bersama, yakinkan merah putihmu bahwa lagu diatas tidak sendang terjadi di Indonesia kita. Kini saatnya kita melakukan proteksi dan meningkatkan daya imun kebangsaaan, melalui upaya sederhana sebagai rakyat jelata (muwatin).

Impiannya adalah bisa saling rukun, gotong royong antar negera. Kalaupun sulit terwujud setidaknya sesama rakyat dinegeri kita sendiri. Sadari satu musuh (common enemy), Ingat !, Torang samua Basudara, Musuh kita hanya satu, setan didada.

Dunia bagai roda, akan selalu bergurlir. Kalau tidak disadari satu musuh akan terus terjadi pertumpahan ini. Kini yang tertindas dan terjajah menyimpan bara dendam dan tertanam bibit permusuhan, maka suatu saat akan punya kesempatan untuk diatas kemudian menyakiti sesamanya. Akan terus seperti itu kalau tidak disadari satu musuh (setan di dada).

Karena saudara, mutlak untuk saling kasih mengasihi. Bagaimana agar jiwa kasih terhadap sesama itu tertanam disetiap insan ?, adalah dengan mengenal Allah secara mendekat dan mendasar.

Kemudian kita akan menuai hasil terbaik penuh kedamain dunia sampai akhirat, melalui keseriusan menyeimbangan keadilan hidup dunia akhirat dengan saling berbagi materi kepada saudara sesama. Menanam keyakinan dunia akhirat.

Semoga perdamaian dunia kembali terwujud mulai dari miniatur dunia dan surga (INDONESIA), dengan Mengenal Allah secara mendekat dan mendasar. Mengetahui musuh ghoib setan dan Menanan keyakinan hidup dunia Akhirat … Aminn… Bismillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *