HIDUPLAH SEMAUMU

Iseng berandai andai. Misalnya semua manusia diberi freewill. Sebelum lahir ke dunia. Saat masih di alam ruh. Sebelum orangtua mereka saling kenal. Ditanya ingin wajah dan bentuk fisik seperti apa. Bebas memilih dan menentukan. Kira kira variasi wajah anatomi manusia sekarang seperti apa ya

Terbayang betapa ruwetnya. Mungkin ada yang hidungnya di belakang. Sebagian matanya di punggung. Yang lain punya sayap. Atau ada yang ingin bernafas pakai insang. Ada pula yang bertubuh setinggi tower. Juga ada yang berjalan dengan perutnya.

Untungnya tidak terjadi. Nyatanya tidak begitu. Faktanya kita tidak bisa memilih seperti apa wajah dan bentuk tubuh kita. Bahkan di mana kita lahirpun kita tak bebas. Lahir sebagai ras apa. Warna kulit, mata dan rambut. Dengan ukuran hidung seperti apa. Sudah fixed.

Semua itu hanya membuktikan satu hal. Kita hidup bukan atas kehendak kita. Ada yang menghendaki kita hidup di bumi. Ada yang mengirim kita ke planet ini. Bukan bapak ibu kita. Sebab orangtua kita pun sama dengan kita. Tak tahu apa apa. Tiba tiba saja lahir ke bumi.

Kita yang beragama mengimani Tuhanlah yang mengirim kita. Sampean yang atheis meyakini alamlah yang menciptakan manusia. Secara kebetulan. Coincidently. Apapun itu, siapapun itu, yang pasti di luar diri kita. Dan pasti ada maksud kenapa kita dikirim ke planet ini.

Jika yang mengirim kita adalah Tuhan. Dia pasti punya maksud. Dan tentu pula punya aturan. Agar maksud dan tujuan itu terlaksana. Oleh kita manusia. Agar planet ini terjaga dengan lestari. Memastikan semua akan baik baik saja. Saat nanti manusia dipanggil kembali.

Entah apa yang merasukinya. Tiba tiba manusia ingin mengatur hidupnya. Tidak mau ikut aturan Tuhan. Manusia jadi lupa asal usulnya. Lalu merasa memiliki hak atas tubuhnya. Atas hidupnya. Berdemo “Ini hidup kami. Jangan atur tubuh kami”.

Kedunguan ini pula yang menyebabkan rasialisme tumbuh. Tidak sadar bahwa perbedaan itu niscaya. Bahwa kita lahir sebagai siapa itu bukan skenario kita. Jikapun rasmu hebat, apa hakmu sombong merendahkan ras lain. Sementara kamu tak berperan apapun atas terciptanya kamu lewat rasmu.

Sebenarnya mau hidup seperti apa, bebas. Silahkan saja. Itu hak sampean. Apa hak saya melarang. Tulisan ini bukan untuk men judge. Tuhan saja memberikan pilihan bebas. Fahadainahu najdain. Sak karepmu. Namun ada konsekwensi masing masing.

Saya sendiri ragu ada kebebasan sejati di dunia ini. Yang benar benar semau kita. Yang tidak ada lagi yang bisa menghalangi kehendak kita. Nyatanya ada waktu, hukum alam serta hak orang lain. Yang akan senantiasa menjadi batu sandungan atas kehendak bebas kita.

Sebebas bebasnya kita, masih dibatasi oleh kebebasan orang lain. Hak hak kita juga dibatasi oleh hak orang lain. Sekuasa apapun seorang raja, dibatasi oleh kuasa raja negara lain. Sebanyak apapun kekayaan, takkan mampu memuaskan dahaga “ingin lebih dan lebih lagi”.

Silahkan tumpuk kekayaan. Lalu kikirlah sepelit pelitnya. Agar tak berkurang hartamu. Agar terus bertambah saldo rekeningmu. Toh itu hakmu. Hasil kerjamu. Tetiba kanker, stroke, diabetes menyapamu. Bisa apa kamu ? Hartamu takkan bisa membeli kesehatan.

Qorun itu fakta sejarah. Sulit menandingi kekayaannya. Yang kunci gudang hartanya perlu 40 orang menggotongnya. Bisa dibayangkan isi gudangnya. Wajar berpikir hartanya akan membahagiakannya. Toh ujungnya, gunungan emas dan permatanya tak bisa menolongnya. Saat bumi menelan tubuhnya.

Se diktator apapun sampean, tetap ada yang lebih diktator. Yang tidak bisa sampean tumpas. Malaikat maut. Yang tidak peduli setinggi apapun kuasamu. Sebanyak apapun pasukan dan pendukungmu. Yang lalu menyeretmu mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu.

Buatlah aturan seketat mungkin. Untuk mengekang lawan politikmu. Berkuasalah kamu sewenang wenang mungkin. Pertahankan angkaramu selama kamu bisa. Dengan cara apapun. Setelah itu apa? Tumpaslah setiap yang berbeda. So what?

Firaun itu kurang kuasa apa. Tandas menindas kaum Israel. Tak cukup dengan memperbudak yang dewasa. Bayipun disembelih. Sekarang di mana ? Apa yang dikerjakan di alam sana ? Tersisakah kejayaan yang dia mati matian pertahankan ?

Ciptakan senjata yang paling mematikan. Ledakkan rudal yang paling menghancurkan. Agar ngeri lawan lawanmu. Biar luluhlantak negara musuhmu. Supaya hancur alam dan bangunan musuhmu. Setelah itu apa? Berapa lama kau bisa menikmatinya ?

Sebanyak apapun kamu mampu membunuh. Toh pada ujungnya kamu juga akan “terbunuh”. Oleh malaikat maut. Ada tanah yang akan meremukkan tulang kesombonganmu. Cacing dan belatung siap menyantap congkakmu. Ada laut yang akan memusnahkan abu kuasamu.

Mungkin sampean meremehkan kematian. Sebab menganggap itu akhir. Padahal itu baru awal. Dari sebuah proses Panjang bertanggungjawaban. Yang akan menjadi awal kehidupan panjang tanpa akhir. Bahagia atau menderita selamanya.

Silahkan berbuat semaumu. Tapi sampean tidak bisa membohongi diri. Bahagiamu hanya halusinasi. Kebebasan ilusi. Esktasi ideologi yang dijejalkan. Agar tunduk dan jadi pasar untuk produk pemikiran, barang barang dan pola hidup hedonis. Demi status quo perbudakan modern.

Tuhan memang memberi kita kebebasan. Untuk memilih dua jalan. Jalan mudah mengikuti nafsu. Satunya, jalan sulit mengikuti aturan Tuhan. Yang mengikuti nafsu, seolah bebas. Nyatanya malah membelenggu kita pada ambigu tak berpintu. Sudah begitu, ada konsekwensi murka Tuhan saat nanti kembali pada Nya.

Sementara ada pilihan bebas lainnya. Lewat mengikuti aturan Tuhan. Yang seolah terikat. Tapi sejatinya malah membebaskan kita dari belenggu ambisi duniawi. Dari kekangan kecintaan materi. Yang akan menuntun kita pada keteraturan hakiki. Membimbing hidup pada kedamaian hati dan alam ini.

Alam ini milikNya. Kita hanya bertugas menjaganya. Tubuh ini milik Nya. Kita diberi amanat menggunakannya. Memaksimalkannya untuk bisa mengikuti aturan Nya. Otak dan pikiran ini anugerah Nya. Kita diwanti wanti memakainya untuk mengendalikan nafsu.

Mengikuti aturan Nya pasti untung. Tuhan takkan pernah ingkar janji. Sebab DIA yang menghendaki kita begitu. Hidup ini “permainan-Nya”. Ikuti saja rules of game. Ada reward yang pasti. Di dunia ketenangan nurani. Di akhirat kebahagiaan surgawi dalam konsep kebebasan abadi.

Hiduplah semaumu. Ikut aturan Tuhan Pemilik kesejatian. Atau menuruti nafsu berbalut kebebasan semu. Masing masing pilihan ada resiko. Pilihlah resiko terkecil. Be smart.

Salam Sabtu Olah Kalbu. Bismillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *