SEBERAPA RADIKAL KAMU

Kali ini saya sepakat. Dengan statemen Pak Idham Aziz. Seorang jenderal, Kapolri yang baru. Gesturnya sungguh sungguh. Tak ada ruginya husnudhon. Sekurangnya berharap pada Allah. Menuntun pak Idham istiqomah dengan komitmennya. Dalam menegakkan hukum dan kebenaran.

“Saya ingin menggarisbawahi radikalisme itu tidak bisa diidentikkan dengan Islam. Radikalisme itu oknum atau mungkin kelompok. Ndak bisa kita bilang bahwa dengan radikalisme itu membawa simbol agama. Itu saya pikir tidak tepat. Dan ini harus kita kampanyekan..”.

Radikal berasal dari bahasa latin, radix. Artinya akar. Suku kata biasa. Dipakai untuk sesuatu yang sifatnya mengakar. Mendalam. Baru di di tahun 1797 agak berubah. Menjadi istilah sebuah gerakan politik. Dimotori Charles James Fox. Reformasi radikal sistem pemilihan di parlemen.

Radikal beda dengan radikalisme. Yang memang sebuah isme, ideologi. Paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara cara kekerasan. Mungkin ini yang sedang ramai dibicarakan akhir akhir ini.

Radikalisme tak ada kaitan dengan agama. Apalagi khusus agama tertentu. Kekerasan tanpa alasan haq, tidak diajarkan dalam agama. Mengaitkan radikalisme dengan agama itu sebuah framing. Kontraproduktif. Apapun tujuannya. Terutama dengan Islam. Salah alamat.

Islam itu artinya peace, damai dan selamat. Dalam makna lain, Islam itu serah diri. Tunduk pada aturan. Utamanya aturan Allah, Sang Pencipta. Berserah diri pada aturan Allah demi mencapai kedamaian dan keselamatan disisi Nya. Dunia akhirat.

Tentu saja ada orang yang menganut radikalisme. Itu person by person. Ada radikalisme di kalangan muslim. Tapi tak ada radikalisme dalam ajaran Islam. Bedakan. Saya yakin agama lain juga menolak dikaitkan radikalisme. Meski hampir pasti ada oknum penganutnya yang berpaham radikalisme.

Sebenarnya radikal itu relatif. Bisa baik bisa buruk. Tergantung frame nya. Keputusan atau tindakan yang sifatnya mengakar. Drastis dan anti mainstream. Jadi masalah ketika melanggar aturan. Dan merugikan diri dan orang lain. Namun bila bermanfaat dan legal, ya bagus.

Di dunia spiritual ada Sidharta Gautama. Rela meninggalkan kerajaan. Jadi pertapa. Juga Raden Said alias Sunan Kalijaga. Melepas kenyamanan istana. Demi melayani rakyat. Pilihan anti mainstream. Tindakan radikal yang sangat mulia. Atau para guru ikhlas tanpa gaji. Demi pendidikan anak negeri.

Betapa banyak orang sukses bidang ekonomi. Hasil keberanian berpikir radikal. Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Job. Memilih dan pionir di bidang yang belum dikenal di masanya. Bisnis yang out of box. Jadi orang terkaya meski DO dari kuliah.

Korupsi itu prilaku yang sudah mengakar. Dari atas sampai bawah. Hampir di semua lini. Sudah radix. Memberantasnya harus radikal. Law enforcement. Extra ordinary. Tegas, jelas, tuntas. Bukan hanya efek jera. Penting mencabut akarnya. Mindset bisikan setan di dada. Serakah, ambisi tambah kaya.

Bidang kesehatan juga. Olahraga. Diet makanan berlemak. Kurangi kolesterol. Bila perlu vegetarian. Bagi yang tidak biasa itu berat, sulit, radikal. Tapi bagus. Mau berhenti rokok? Tidak bisa pelan pelan. Kudu radikal. Sekaligus. Berhenti total. Mau sukses bidang lain? Tergantung seberapa radikal upayamu.

Katsuyukui Kawai, Menteri Kehakiman Jepang mengundurkan diri. Gratifikasi ke pemilih saat pemilu. Memberi bingkisan kentang dan jagung. Sepele. Isshu Sugawara Menteri Perdagangan juga mundur. Kasus sama. Itu mental radikal yang perlu ditiru pejabat Indonesia. Budaya malu dan sikap gentlemen.

Satu siang saya dengar adzan. Bukan muadzin biasa. Kaget, orang yang selama ini kerjaan judi dan minum. Sekarang tiap dhuhur aktif sholat. Jika dulu di belakang jok mobilnya minuman keras dan alat judi. Berganti kopyah, sarung dan sajadah. Hidayah Allah setelah ikut ngaji. Itu radikal baik.

Abi Muchtar menjual beberapa hektar tanah pribadi untuk bangun jalan umum. Mengorbankan dinding kayu masjid untuk membendung dam yang jebol akibat banjir. Panen warga terselamatkan. Beliau lalu dianggap aneh dan dicap sesat. Sebab melakukan tindakan radikal tersebut.

Di tahun 2015. Apresiasi patut diberikan pada Polri. Saat intitusi ini memberikan hak polwan muslim untuk berjilbab. Sebuah keputusan radikal yang sangat baik. Mengingat di tahun 90 an penggunaan jilbab sangat dibatasi. Bahkan di sekolah sekolah sekalipun.

Masa jahiliah Arab. Anak perempuan itu aib. Tak jarang dikubur hidup hidup. Lalu Islam datang. Laki perempuan di mata Allah sama derajatnya. Tradisi itu berhenti total. Itu ajaran radikal. Yang baik. Menghormati HAM. Orang modern baru mengkampanyekan sekarang.

Jaman itu perempuan dianggap properti. Barang yang bahkan bisa diwariskan. Tak punya hak apapun. Islam melakukan pembebasan. Perempuan berhak atas waris. Manusia berderajat yang bahkan bisa memberi waris. Punya hak suara. Di segala bidang. Ajaran radikal di masanya.

Radikalisme juga memiliki dua sisi. Pemberontakan terhadap kolonialisme. Definisi subyektif Belanda tentu itu radikalisme. Masa bodoh. Bagi bangsa Indonesia itu gerakan baik. Melawan kedholiman penjajah. Apa yang dilakukan Panglima Soedirman dan Pangeran Diponegoro justru layak diteladani.

Di sisi lain radikalisme PKI itu negatif. Memberontak terhadap pemerintah RI yang sah. PERMESTA, PRRI dan lainnya. Ingin merubah sistem sosial dan politik di NKRI. Secara kekerasan. Rakyat dan tentara jadi korban. Di pihak anggota PKI maupun pihak pemerintah. Tak boleh ditolerir.

Radikalisme tidak mengenal wilayah. East and West. Sama saja ada. Kelompok bersenjata di Irlandia Utara, IRA. Berjuang untuk kemerdekaan Irlandia. Sampai saat ini. Atau separatis ETA Basque di Spanyol. Yang baru bubar 2018 lalu. Pemberontak ELN di Kolombia. PKK etnis Kurdi di perbatasan Turki dan Syria.

Akar masalah nyaris sama. Di mana saja. Ekonomi dan tuntutan keadilan. Mestinya solusinya juga sesederhana itu. Tegakkan keadilan dan hukum. Sejahterakan ekonomi rakyat. Dijamin radikalisme itu takkan laku. Itu yang saya sampaikan ke teman. Seorang ustadz yang datang minta saran.

Dia akan melaksanakan sebuah program deradikalisasi. Merekrut para tokoh dan pemuda desa. Ditraining tentang anti radikalisme. Lalu diterjunkan ke desanya lagi. Untuk mengkampanyekan itu. Menurut saya ini amat beresiko. Bisa memancing kecurigaan antar warga.

Desa yang awalnya damai. Biasa dan sangat toleran dengan perbedaan. Lalu muncul definisi baru radikalisme. Siapa yang berbeda dianggap radikal. Secara alamiah memicu muncul front A dan front B. Ada aksi, ada reaksi. Please, pikirkan lagi. Tentang materi dan strategi. Yang lebih mendamaikan.

Minggu lalu seorang anak muda japri. Minta masukan mau lomba ceramah. Topik anti radikalisme. Saya sepakat. Lalu saya kirimkan dua tulisan saya. Dulu pernah dimuat di sebuah koran. Tentang Pancasila. Juga tentang Kemerdekaan. Pancasila itu sangat baik. Sebagai definisi anti radikalisme.

Kita doakan pak Idham. Semoga sampean dibimbing Tuhan. Lanjutkan niat merancang program dan statemen yang mendinginkan suasana kebatinan masyarakat. Saya husnudhon, pemahaman dan janji sampean akan konsisten. Menegakkan kebenaran dan keadilan. Be “a man of his word”.

Salam Damai. Bismillah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *