MALIN KUNDANG, CUKUP SATU SAJA.

Belum genap satu bulan diantarkan anak anaknya, 19 hari Si Mbah tinggal di asrama lansia SPMAA. Kini meninggalkan kehidupan yang penuh drama dan dinamika, dunia. Entah alasan apa anaknya tidak bisa mewujudkan harapan terakhir Si Ayah untuk tinggal bersamanya dirumah, sampai wafat tidak terwujud…

Saat seluruh warga pondok SPMAA menjadi panitia prosesi Idul Adha 1440 H. Keagungan dan kebesaran Allah mengema dalam lantunan takbir dari bibir para santri dikala menjalankan tugas masing masing.

Seketika itu seluruh aktifitas berhenti total…
Beberapa santri yang merawat, menunggu dengan sabar penuh sayang mengabarkan kalau Si Mbah sudah tiada.

Kami bersyukur sekalipun mereka (para santri) bukan anak biologisnya, tapi Alhamdulillah para santri diteladi Bapak Guru Muchtar (pendiri Ponpes SPMAA) bisa mengantikan peran anak bagi SI Mbah tersebut. Melayani dengan penuh sayang dan ihlas. Impian untuk didampingi “anaknya” terwujud

Peristiwa wafatnya Mbah itu mengingatkan saya pada seorang bapak sekitar lima tahun yang lalu.

Badan tinggi besar, gagah, raut ganteng masih nampak dalam kerutan wajahnya yang mulai keriput. Berpendidikan tinggi, pengalaman luas, kaya, sukses. Sayang diakhir kehidupannya berakhir sedih.

Dua anaknya kaya dan mapan, juga berpendidikan tinggi. Sayang sekali kemapanan, ketinggian pendidikan sekolah anak-anaknya tidak beriring dan serbanding dengan jiwa kasih kepada orang tuanya. Orang tua nya dibiarkan dalam kesunyian dan kesendirian.

Padahal, kemapanan keduanya baik dalam bisnis maupun dalam berkeluarga adalah karena rintisan dan peran bapaknya. Sekolah sampai strata dua (S2) di luar negri juga dibiayai dan disekolahkan bapaknya.

Tiba dimana bapaknya “membutuhkan” balas budi baik anak-anaknya, mereka abai, lupa, tidak sempat, sibuk perkerjaanya. Sehingga bapaknya dititipkan di SPMAA. Kenapa bisa setega itu manusia.

Ceritanya, bapak yang sebenarnya belum lanjut usia itu awalnya kecelakaan. Mobil yang dia kendarai menabrak unta, kejadian di timur tengah. Atas peristiwa tersebut mengakibatkan kelumpuhan beberapa organ tubuhnya.

‘Apakah dua lakon diatas itu durkaha ?’. Saya bukan sedang menghakimi siapapun, ini adalah cerita yang saya lihat dan dengar, pegalaman ini adalah kaca untuk saya sendiri, syukur Alhamdulillah kalau pembaca berkenan memimjam kaca ini.

Sombong kalau saya merasa sudah menjadi anak yang berbakti kepada oran tua. Semaksimal, setotalitas apapun saya dalam menghormat melayani beliau, tidak akan pernah bisa mengimbangi apa yang telah diberikan oleh Abi dan kedua Ibu saya.

Kisah nyata yang saya tulis ini bukan melabeli orang lain, tetapi untuk i’tibar dan rambu bagi diri saya dan anak-anak saya sendiri. Siapa tau bisa bermanfaat bagi saudara semua yang masih memiliki orang tua. Sangat mungkin kisah dua kelaurga tersebut adalah fiktif dihadapan Allah, dihadirkan Allah dihapan kami para santri adalah untuk bahan uji dan materi pelajaran kewaspadaan.

Curhatan yang berisai harapan untuk anak-anaknya dua bapak diatas cukup sederhana, dan harapan itu yang sepertinya juga menjadi impian semua orang tua didunia.

Berharap anaknya menemani dengan sabar, seperti dikala anak-anaknya masih kecil. Bapak ibu sabar menunggui setiap waktu, beberapa menit saja saat kita kecil tidak disamping nya beliau gelisah setengah mati sesegera mencari. Tapi kini setelah dewasa sampean tidak perduli sama sekali.

Beliau berdua tidak ada jijik risih dan mengeluh, menceboki memandikan dan membelai sampean kecil dengan sabar dan sayang. Setelah remaja bikin susah dengan berulah, saat dewasa menuntut harta benda entah untuk apa.

Tibalah bapak ibu mulai senja, sampean seolah tidak kenal, jangankan memandikan, menyuapi saja merasa risik dan ogah. Entah apa alasannya, dan alasan apapun sangat tidak dibenarkan dalam kaidah kemanusiaan apalagi agama. “Benarkan ini anakku yang dulu ?” batin ibu bapakmu.

Kita kudu sadar dan musti ingat bahwa, daging yang membentuk tubuh sampean itu darah daging ibumu keringat bapakmu. Kita cukupi dua kisah lansia diatas. Mari kita muliayakan kedua orang tua, bersiaplah kita menjadi pelayannya.

Niati hanya karena Allah sebagai bentuk sukur melalui jasa orang tua, karena perintahNya kita hormat sayang melayani dan memuliyakan keduanya. Bukan karena agar dapat warisan, tapi agar kita menjadi orang yang tau diri dengan balas budi. Bismillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *