Implementasi Ngaji Santri

Barusan pagi ini, Ahad 27 Oktober 2019, Gus Naim mendekat bilang, bahwa didatangi rombongan tamu dari Ngawi, satu diantaranya seorang ibu janda dengan keterangan : membawa anak perempuan usia lima tahun dengan kondisi disabilitas tuna netra sejak lahir. Kemarin bekerja di hutan dan sekarang mengalami kesulitan. Mohon bantuan untuk dirawat di SPMAA.

Kata Gus Naim, hanya ingin menangis saja menyaksikan kesulitan bangsa yang begitu banyaknya ini. Karena memang kondisi saudara kita yang model seperti itu masih banyak sekali dan belum punya solusi.

Karena tiga hari yang lalu, Kamis 24 Oktober 2019, GH sendiri juga menerima tamu dari Pucuk Lamongan yang dibawa oleh keluarga dan TKSK yang membawa klien psikotik usia 40 tahun. Dari rumah di belok, dan minta dirawat di SPMAA dan sudah keliling belum dapat solusi.

Rata-rata yang datang ke SPMAA diatas, baik yang lansia tanpa keluarga yang dirujuk dari masyarakat atau instansi pemerintah, selalu berujung rawat tetap. Dan itu konsekwensinya ya seperti memperlakukan keluarga sendiri.

Kalau cuman tolong saat datang dan beri sesuatu, insyaAllah tidak ada masalah, nah yang berjalan sejak 1961 dibawah pengasuhan Bapak Guru Moh.Abdullah Muchtar itu, selalu selanjutnya menjadi keluarga rawat tetap seperti keluarga sendiri.

Padahal sebenarnya Pondok SPMAA itu seperti pada pondok pesantren yang lain pada pendidikan kitab atau keilmuan pesantren. Namun saat didatangi kondisi tamu yang minta bantuan, dan kondisinya emergency, teladan pendiri kami SPMAA, selalu tidak mampu menolak karena konsekwensi dari implementasi ajaran dari kitab yang dikaji itu.

Itulah kondisi pondok pesantren SPMAA dengan keunikan dari Allah yang terjadi sejak tahun 1961 hingga kini. Bismillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *