EKSTASI KUASA

Seorang kawan melakukan riset kecil kecilan. Di daerahnya. Setelah pilkades serentak beberapa waktu lalu. Respondennya para calon kades. Apa alasan pingin jadi kades. “Ingin berjuang membangun desa”. Nyaris seragam. Jawaban normatif. Mungkin meniru yang di atasnya. “Demi bangsa”.

Giliran sampai pada pertanyaan, caranya bagaimana. Diam. Mbulet. 80 % menjawab tidak tahu. Kita lihat nanti. Pokoknya jadi pejabat dulu. Punya kuasa dulu. Bisa jadi bagi mereka jabatan itulah tujuan. Program, dipikir nanti. Strategi, ditangani tim sukses.

Kejauhan bicara visi misi. Dokumen itu tersimpan di laci. Rapat terkunci. Sebab dulu itu hanya persyaratan administrasi. Dibuka, dihapal dan dibaca nanti 5 tahun lagi. Saat akan mencalonkan diri. Untuk kesekian kali. Toh warga biasanya tidak teliti.

Dulur, apakah para calon kades itu salah ? Debatable. Bisa iya bisa tidak. Jikapun salah, banyak faktor yang mempengaruhinya. Pola pikir subyektif yang terbentuk oleh paradigma kolektif. Sesuatu yang diajarkan berulang. Oleh lingkungan. Lalu tertanam di alam bawah sadar.

Kita ikut andil kesalahan. Memotivasi diri dan orang lain meraih kuasa. Tapi lupa menjelaskan tujuan utama. Perjuangan, pengorbanan dan pengabdian. Untuk bangsa, negara, agama dan Tuhan. Alpa menegaskan bahwa jabatan itu hanya alat. Bukan tujuan.

Orangtua, guru, tokoh agama dan semua orang mendorong anak anak kita. Nanti besar harus punya jabatan. Harus berkuasa. Di swasta maupun pemerintah. Tiap generasi jadi berlomba ke arah itu. Jabatan jadi tujuan. Fokuspun jadi melenceng dari ideal awal. Untuk kepentingan pribadi. Bukan bangsa, negara atau agama.

Entah sejak kapan jabatan jadi ukuran sukses. Menyedihkan ketika jabatan jadi ukuran kemuliaan. Orang jadi begitu bernafsu. Jabatan is power. Power is main goal. Raihan yang perlu diperjuangkan. At any cost. Berapapun biayanya. Apapun resikonya. Bagaimanapun caranya.

Lupakan halal haram. Pinggirkan dulu etika dan rasa malu. Bila perlu jilat kembali statemen dan jargon. Yang kontradiktif dengan posisi. Buat retorika baru. Untuk justifikasi. Toh idealisme bisa dimodifikasi. Lawan dan kawan bisa diatur ulang skenarionya.

Kita jadi lupa bahwa jabatan itu hanya alat. Itupun salah satu saja. Dari sekian banyak alat alat lainnya. Bukan satu satunya. Untuk meraih tujuan yang lebih besar. Masih banyak alat lain selain jabatan. Yang ternyata juga bisa berhasil. Bermanfaat. Bagi bangsa, agama dan negara.

Khalid bin Walid itu seorang petempur hebat. Komandan berprestasi. Tak pernah kalah perang. Pasukan yang dipimpinnya selalu menang. Rekornya 100%. Baik ketika jadi lawan Rasulullah. Maupun saat jadi sahabat setianya Rasulullah. Dia pemimpin dan ahli strategi.

Sejak Rasul hidup sampai wafat digantikan Abu Bakar, Khalid tetap berjuang. Dipercaya jadi komandan. Dicintai prajurit. Setiba keekhalifahan Umar, tiba tiba dicopot jabatannya. Padahal saat itu Khalid tengah memimpin ekpedisi tempur. Dengan kesuksesan.

“Sekedar bertanya, boleh aku tahu kesalahanku, Ya Umar?”, tanya Khalid. “Kamu tidak salah apa apa. Aku hanya khawatir pasukanmu mengkhultuskanmu. Lalu kamu jadi lupa diri. Aku menyayangimu”. “Siap, laksanakan. Terima kasih”. Khalid ikhlas. Tak ada kekecewaan. Tak ada dendam.

Selanjutnya Khalid tetap setia berjuang. Meski harus menjadi tentara biasa. Jadi anak buah. Ketika ditanya kenapa masih mau bertempur, padahal jabatan dicopot. “Aku bertempur bukan karena Umar atau jabatan. Aku berjuang untuk negara dan agama. Tujuan tertinggiku ridlo Allah”.

Begitulah mustinya kita. Berjuang demi idealisme, bukan posisi. Yang harga mati itu ideologi. Misinya jelas. Ukuran kemuliaannya tegas. Kemuliaan penghuni negeri dan ridlo Ilahi. Ini yang abadi. Kita jadi bebas tekanan. Saat menjabat atau menjadi rakyat.

Saat jabatan memberi manfaat untuk umat. Terima saja. Itupun jika kita mampu. Ukur diri sungguh sungguh. Jujurlah. Jika tidak mampu, tak usah memaksakan. Serahkan pada yang mampu. Apalagi bila ada resiko murka Tuhan. Tinggalkan jabatan itu. Tak usah khawatir hina di tengah manusia. Terpenting mulia di hadapan Tuhan.

Percayalah, masih banyak peluang kemanfaatan di luar jabatan. Yang cuma beberapa tahun itu. Banyak cara untuk menjadi orang mulia dan baik. Jabatan dan kuasa itu ibarat cangkul. Salah satu saja dari alat bercocok tanam kebaikan. Bila mampu dan punya, pakailah. Jika tidak, cari alat lain.

Nabi pernah ditawari para pemimpin Mekah. Jabatan raja diraja seluruh jazirah. Beliau tolak. Sebab syaratnya bertentangan dengan idealisme perjuangan beliau. Bisa saja Nabi terima lalu nanti berubah haluan saat berkuasa. Tapi tidak. Sebab jabatan itu manifestasi nurani. Bukan topeng yang bisa dimanipulasi.

Tentu saja tidak semua jabatan buruk. Yang buruk adalah yang tak peduli. Meski tak memiliki kompetensi. Tak mampu mengukur diri. Ngotot, tidak sadar diri. Memaksakan kehendak, tidak tahu diri. Saat berkuasa, terlena lupa diri. Ujungnya, kepentingan warga tak terlayani.

Jabatan memang penting. Namun, sepenting itukah sampai mengemis mendapatkannya? Bukankah dengan mengemis kita berpotensi kehilangan daya kritis dan nalar? Mungkin itu kenapa Islam melarang meminta jabatan. Sebab kuasa itu beban. Celaka bagi yang tak mampu.

Akan jadi candu. Esktasi yang menagihi. Haus yang tak terpuaskan. Lagi dan lagi. Bagi sampean yang merasa bisa, tahanlah diri. Jikapun diminta dan dipercaya, terimalah dengan tangisan waspada. Bukan dengan pesta hura hura. Anda sedang berjalan di atas pedang bermata dua.

Bagi yang sadar diri tak mampu, kemarilah. Merunduklah. Ke tengah umat ini. Ada ribuan hal kecil namun kongkrit yang bisa kita tangani. Yang dampaknya bisa langsung dirasa. Yang bila kita menunggu “pak kades” lewat jabatannya membuat kebijakan, entah kapan akan tertangani. Alasan birokrasi.

Mbah Sadiman di Wonogiri. Sukses menghijaukan gunung seorang diri. Selama 20 tahun. Masitoh penjual keset atau Brigadir Ali seorang polisi. Penghasilan pas pasan merawat ratusan anak yatim. Ada pesantren menggerakkan ekonomi ribuan warga desa. Budidaya jahe dan bawang.

Atau seorang dokter dengan ide klinik asuransi sampah. Solusi mahalnya biaya berobat. Juga gerakan sedekah mengajar. Solusi problem pendidikan kelangkaan guru di pedalaman. Dan banyak lagi. Kita bisa mulai dari hal kecil. Bagi yang mampu, silahkan dalam skala besar.

Bayangkan jika kita semua begitu. Akan terbangun civil society. Kemandirian masyarakat madani. Sektor ketiga. Insya Allah makmur negeri ini tanpa harus menunggu pemilu. Jika ujungnya hanya bagi bagi roti bolu. Untuk apa adu otot bikin ngilu. Jika pertengkaran membuat kita pantas dikatain, “ah bego lu..”.

Peace. Bismillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *