TANGISKU TAWAMU

Banksy nama seorang pelukis jalanan di Inggris. Istilahnya saja jalanan. Namun dia cukup terkenal. Harga lukisannya juga sangat mahal. Very very expensive. Minggu lalu salah satu lukisannya terjual. Di sebuah balai lelang. Di Sotheby’s, London. 12 juta pundsterling. Sekitar 172 milyar rupiah.

Judul lukisannya “Devolved Parliament”. Saya bukan ahli lukisan. Juga bukan penikmat. Bukan porsi saya menafsirkan. Lukisan itu menggambarkan suasana sebuah sidang parlemen. Di dalam gedung DPR. Hebohnya, yang bersidang itu simpanse semua.

Saya tidak mau menduga duga. Sebab memang tidak tahu. Apa yang ada di benak Banksy. Sindiran sarkasme atau sebuah protes. Yang jelas dia beruntung. Tidak saja secara materi milyaran. Juga apresiasi atas karya seni. Dan pastinya tidak ditangkap tuduhan makar.

Di Senayan ada Jimmy Demanius Ijie. Menangis saat berbicara soal Papua. Menginterupsi sidang MPR. Yang sedang ribut berebut entah tentang apa. “Kita hanya berebut kekuasaan semata. Sementara orang di Papua membutuhkan kehadiran lembaga negara untuk menyelesaikan masalah mereka”.

Interupsi Jimmy awalnya tidak terdengar. Kalah oleh teriakan, bahak tawa dan hujan interupsi. Riuh rendah. Mungkin itu yang membuat Jimmy sampai sesenggukan. Melihat kontrasnya suasana. Gelak tawa di gedung itu. Di atas tangis menyayat korban dan pengungsi di Papua.

“Kasihan pengungsi pengungsi itu tidak ada perhatian dari kita. Kami orang Papua tidak pernah bermusuhan dengan saudara saudara kami. Ulah kalian semua di Jakarta. Kerakusan kekuasaan yang luar biasa. Kalian jadikan rakyat di daerah menjadi korban adu domba”, sergahnya.

Di ruangan itu Jimmy berbeda. Jimmy bukan simpanse. Dia manusia mulia ciptaan Tuhan. Dia punya hati seperti kita. Menyuarakan sense of crisis. Semoga konsisten. Lalu menular pada penghuni ruangan lainnya. Bisa merasakan tangis rakyat yang diwakilinya. Tak mungkin tertawa saat rakyat menangis.

Sebelum Wamena, konflik di Nduga sudah perih. Pengungsi juga ribuan. Ratusan di antaranya meninggal. Setelah 9 bulan lebih hidup tak layak di pengungsian. Wajar Jimmy menangis. Wajar orang Senayan tertawa. Sebab Jimmy melihat dan merasakan apa yang tidak dilihat dan tidak dirasakan Senayan.

Tangis dan tawa memang dibatasi tabir tipis. Satu fenomena menimbulkan dua reaksi berbeda. Tergantung kedalaman sudut pandang. Kita kerap menangisi sesuatu yang tidak penting penting amat. Lalu mentertawakan hal yang sangat urgent. Termasuk tentang hidup kita ini.

Bagi sebagian orang kursi pimpinan fraksi pimpinan komisi itu penting. Jauh lebih penting daripada persoalan kebutuhan mendesak rakyat. Sementara bagi kita semua, yang paling penting adalah kebutuhan hidup di dunia ini. Jauh lebih prioritas daripada urusan paska mati.

Nabi pernah bersabda, “Andai kalian tahu apa yang aku tahu, kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis”. Nabi mampu melihat ke depan. Di kedalaman hakikat. Kita tidak. Masih tersekat oleh dunia kebendaan. Sehingga sering tertawa untuk hal yang mestinya menangis.

Para gadis takut kulitnya tak tampak mulus. Politisi khawatir suara dan jumlah kursinya berkurang. Jabatannya digantikan orang lain. Hanya itu. Hasilnya kitapun masih ketawa ketiwi. Nyantai. Seolah tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan.

Kita begitu khawatir miskin dunia. Sampai riba dan korupsi pun oke saja. Tak khawatir miskin akhirat. Sebab neraka terdengar seperti dongeng saja. Kita sangat terobsesi kaya dan kuasa dunia. Padahal janji surga Tuhan jutaan lebih mewah dan abadi.

Sakaratul maut itu sakitnya luar biasa. Konon ratusan tahun setelah mati, ruh masih merasakan sakitnya. Dan tiap dari kita pasti merasakan. Namun sedikit sekali yang mengkhawatirkannya. Belum lagi detil dan rumitnya pertanyaan kubur.

Saking detilnya pertanyaan itu, sampai sampai tentang sebuah kapak saja perlu 40 hari interogasi tanpa henti. Dialami seorang penebang pohon. Yang kekayaannya ya hanya kapak itu. Bayangkan ribetnya pertanyaan konglomerat. Apalagi dari hasil korupsi.

Mungkin itu juga kenapa para salih dahulu cenderung sedih bila terpilih jadi pemimpin. Bukan hanya tanggungjawab dunia yang dikhawatirkannya. Dahsyatnya persidangan di hadapan Sang Maha Hakim lah yang membuatnya ketar ketir. Tentang nasib jutaan rakyatnya. Satu persatu. Hal hal itu yang dilihat Nabi. Apa yang kita tidak mau lihat.

Guru saya, Abi Muchtar kerap ditanya kenapa begitu mati matian memperjuangkan akhlak umat. Beliau jawab dengan analogi dua orang bertetangga. Satu dari rumah mereka terbakar. Pemiliknya sedang ke pasar. Tetangga tahu. Pontang panting memadamkan api.

Sementara pemilik rumah itu santai. Belanja ini itu. Cuci mata. Ketawa ketiwi. Tidak tahu rumahnya nyaris musnah. Begitu sampai rumah, 180° berubah. Melihat rumah ludes. Ditingkahi tangis pilu. Menyumpahi diri. Atas kecerobohannya. Sesal tak berujung.

“Aku ini ibarat tetangga kalian. Melihat rumah kemanusiaanmu terbakar. Bangunan keimanan kalian rapuh nyaris runtuh. Tapi kalian sedang sibuk di “pasar” kebendaan dunia”. Sekarang masih bebas menuruti nafsu. Mentertawakan peringatan Tuhan. Kalian tidak tahu apa yang akan kalian hadapi.

Kalian tidak mau tahu. Namun begitu kalian pulang ke akhirat. Tahu sendiri akan dibakar neraka. Sebab angkara murka selama di dunia. Baru manusia tenggelam dalam sesal air mata darah. Tawa kuasa semasa dunia berganti tangis di neraka. “Itulah kenapa aku menangisimu sekarang. Sebelum terlambat”.

Untuk yang di Senayan, biarlah tugas Jimmy mengingatkan mereka. Sejenak kita toleh diri kita sendiri. Yang kebanyakan juga masih seperti penghuni gedung itu. Mata batin kita masih tertutup. Tertipu oleh ilusi dunia. Enggan memahami hidup secara holistik.

Simpanse dan binatang lainnya hidup hanya sampai dunia ini saja. Kita berlanjut ke akhirat. Mestinya sudut pandang kita juga sampai di sana. Menembus alam materi ini. Persiapkan bekal kubur dan akhiratmu. Tak apa “menangis” waspada di dunia. Asal tertawa bahagia di akhirat.

Tak harus menjadi orang Papua untuk merasakan derita mereka. Cukup menajamkan intuisi kemanusiaan kita. Supaya tak tergolong apa yang dilukiskan Banksy. Tak perlu menunggu mati untuk melihat apa yang dilihat Nabi. Cukup meneguhkan iman keakhiratan kita. Supaya tak menangis di akhirat nanti.

Salam Dunia Akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *