REVISI AMBISI

Seorang dokter dibakar hidup hidup. Petugas puskesmas dianiaya sampai luka berat. Dokter itu berasal dari luar Papua. Mengabdikan diri untuk kesehatan masyarakat Papua. Dia tidak datang ke sana untuk politik. Bukan pula untuk emas atau tambang. Murni pengabdian.

Dokter itu petugas kemanusiaan. Terbunuh oleh orang orang yang merasa kemanusiaannya sedang dirampas. Anomali. Sudah 38 orang meninggal korban kerusuhan rasial di Wamena, Papua. Ribuan lainnya mengungsi. Korban wafat, tersirat kebencian. Korban selamat, sarat dendam.

Di Kendari mahasiswa itu tertembus peluru. Di dadanya. Memperjuangkan hak bersuaranya. Tertembak oleh pihak yang merasa sedang melaksanakan kewajibannya. Lingkaran setan hak dan kewajiban. Aksi mahasiswa di Jakarta pun sama. Memakan korban. Korban jiwa, korban luka juga korban fitnah.

Belum padam api karhutla Riau dan Kalimantan. Tetiba gempa mengguncang Ambon. Korban berjatuhan. Masih sedikit yang menoleh. Baru sedikit yang membantu. Terlalu banyak persoalan lain. Publik linglung. Kaget sebentar lalu lupa. Banyak agenda yang terbengkalai.

Geografi negara kepulauan ini kaya. Tanah subur. Moyang kita tak pernah kekurangan pangan. Obat pun bisa didapat dari tanaman. Sumber daya alam berlimpah. Di laut dan perut bumi. Menjadi pertanyaan bila rakyat kita miskin. Bagaimana ceritanya ini.

Jika sampean tanya apakah negeri kita sedang baik baik saja. Tentu tidak. Kita tidak sedang oke. Problem bangsa datang bertubi. Di saat yang bersamaan. Jika sampean tanya siapa yang bersalah. Kita atau mereka. Tentu kita semua. Yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan.

Saya memilih kesimpulan intropektif. Bahwa ini teguran Tuhan. Kode keras atas keingkaran kita. Pada nikmat negeri yang aslinya serpihan surga ini. Nusantara terkenal ramah. Sangat welcome pada pendatang. Suku manapun. Rukun. Tetiba marak konflik sosial. Apalagi rasial. Ini aneh.

Teguran Tuhan bisa lewat banyak cara. Utusan malaikat menyamar. Lewat penyakit. Melalui datangnya bencana. Konflik berkepanjangan. Tuhan berkuasa menegur siapapun. Tidak ada yang kebal di mata Tuhan. Umat atau raja. Rasul dan Nabipun banyak yang mendapat teguran Tuhan.

King David itu raja besar di masanya. Pasukannya kuat. Wilayah kekuasaannya luas. Istananya dijaga puluhan ribu prajurit pilihan. Rakyat makmur. Suatu hari istana heboh. Ada dua orang rakyat menghadap. Penjagaan yang berlapis itu tak satupun tahu lewat mana mereka. Bisa masuk ke ruang kerja raja. Demonstrasi senyap ala jelata.

King David kaget bukan kepalang. “Sampaikan apa keperluanmu”. “Kami minta keadilan. Saudara saya ini punya domba 99 ekor. Tapi masih minta kambing saya. Padahal saya hanya punya 1 ekor itu. Gimana, paduka?”. “Saudaramu itu keliru. Rakus. Punya 99, masih ingin tambah”.

Puas dengan jawaban raja, mereka pamit. Sempat berbisik antar mereka, “Ssst.Raja menyalahkan diri sendiri”. David mendengar rumpian mereka. Berpikir keras. Mereka pasti bukan manusia. David berdoa lalu mendapat wangsit Tuhan. Ternyata dua orang itu malaikat yang diutus Tuhan menegur.

Sebagai raja David punya 99 orang istri. Seorang panglimanya memiliki seorang istri. Dalam sebuah pertempuran panglima itu gugur. Istrinya dipersunting David. Ini isi sindiran kedua malaikat. Memutus salah pada pemilik 99 ekor kambing. Tanpa sadar memiliki kasus yang sama.

David bertaubat. Mengundurkan diri dari kerajaan. Legawa mengakui salah. Ikhlas diserahkan mahkotanya. Memilih menanggalkan semua kekuasaan. Menyepi ke sebuah gunung. Berpuasa, bertasbih kepada Tuhan. Berkidung suci bersama pepohonan dan alam. Tapa sepi sampai akhir hayat.

Berkaca pada King David. Bangsa kita perlu flash back. Bukan untuk meratapi masa lalu. Tapi demi mendapat pelajaran apa yang keliru. Memungutnya sebagai rambu jalan ke depan yang kita tuju. Jika kita memang ingin damai, makmur, berakhlak dan maju.

Kita perlu kembali ke khittah. Fitrah kita. Setidaknya dalam dua hal. Kemanusiaan dan keagamaan. Kenapa begitu ? Dua hal itu bahan bakar yang paling mudah disulut. Sentimen rasial dan segmen primordial. Trigger konflik horisontal maupun vertikal.

Satu ras merasa lebih berhak mendiami satu teritori. Ras lain mesti pergi. Hanya mau kerja bareng dengan sesama rasnya. Ras lain diposisikan kasta bawah. Pengikut agama tertentu ngotot merebut status mayoritas. Senggolan dengan mayoritas di wilayah lain.

Faktor ekonomi dan kebodohan hanyalah salah satu titik masuk. Bukan faktor utama. Faktanya banyak orang berpendidikan dan kaya juga terjebak rasis dan primordialis. Malah kerap jadi aktor dan provokator. Kehilangan jati diri rasionalitas. Terkurung tempurung subyektifitas.

Agama dan Sifat Manusia Kembali Pada Aslinya. Itu tagline kita bersama. Apapun agamamu, kembalilah pada core ajaran. Penghambaan pada Tuhan, pelayanan pada sesama insan. Apapun ras manusiamu, kembalilah pada fitrah. Makhluk sosial. Dari setetes sperma yang sama.

Sudahi buih ambisi kuasamu. Apapun manifesto politikmu. Jika ujungnya menyengsarakan sesamamu. Berhentilah menuhankan manusia. Tidak ada satupun manusia yang tanpa dosa atau kesalahan. Asah kepekaan fitrahmu. Minimal sebagai manusia.

Waspadai teguran Tuhan ini. Kita hidup di negeri yang sama. Tanah kepulauan yang tersambung. Dalam wawasan nusantara. Kepedihan Papua hendaklah dirasakan oleh Sunda. Sesaknya nafas Riau dan Kalimantan adalah sesak Jakarta. Begitulah manusia. Begitulah Indonesia seharusnya.

Kita yang mengaku beragama, renungkan definisimu. Agama dari bahasa sansekerta. A artinya tidak. Gama artinya kocar kacir. AGAMA berarti tidak kocar kacir. Sebuah aturan hidup untuk mencapai keteraturan manusia. Kembalilah ke sana. Aturan agamamu. Yang penuh kasih itu.

Agama itu undang undang Tuhan. Nilai salah dan benarnya terjamin. Ada keadilan yang bergaransi akhirat. Beda dengan undang undang buatan manusia yang kental kepentingan dan subyektifitas. Siapapun bisa memasukkan pandangannya. Sulit mencari keadilan di dunia manusia.

Revisi aturan buatan manusia bisa semaunya. Kapan saja. Sementara revisi aturan Tuhan hanya oleh Tuhan sendiri. Lewat pergantian para Rasul di tiap abadnya. Membawa agama baru, revisi agama lama. Bukan soal benar salah. Hanya tentang kapan aturan itu dibutuhkan sesuai masanya.

Nah, ketika manusia menolak pola itulah, Tuhan menegur. Sebagai bentuk kasih sayang Tuhan pada kita. Meski kadang harus dengan jatuhnya korban. Harta dan nyawa. Itupun sebab bebalnya akal dan jiwa kita. Yang ditegur secara halus tak kunjung merasa.

Dulur, cukuplah air mata bangsa ini. Di belahan manapun bumi ini. Rem kengototan ini. Bertanyalah pada nurani manusiamu. Bacalah kitab suci agamamu. Tirulah King David, legawa merevisi ambisinya. Meski raja dan nabi. Sadar bertaubat. Kita bukan raja. Mestinya bisa. Menjadi manusia. Yang beragama.

Salam Senin Hening. Bismillah.

Sumber : https://www.facebook.com/glory.muchtar/posts/10156765759304370

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *