Moment of Endurance

Di situasi tak terkendali seperti ini, kita bisa usaha berswadaya menyelamatkan kekeluargaan. Ada banyak cara dan jalan lain diantara kesempatan yang mungkin. Semua ada konsekwensinya.

Kalau mau nikmat sesaat, pilih segunung ajimumpung tumpeng yang anteng. Dikelilingi kompromi xtraordinary party, lauk janji kemaruk politisi, jaminan kekenyangan profan, dan suguhan makanan spekulan. Konsekwensi ruhani matisuri. Bias ajidiri mengalami obesitas egopribadi.

Ada siasat memilah setengah sehat diantara wadah syahwat. Kadang melenggang mengalir air. Namun kerap terburu kala jakun menatap menu. Okol terkontrol akal binal. Karena kurang dimakrifati bening air, logikanya hilang & dehidrasi kering polapikir. Jiwa mudah berlemak kurang halal, hatinya susah diajak gerak berjuang spiritual sosial..

Pilihan saya, tawaran ketiga. Baca suasana dinamika dunia dengan buku panduan ilmu bertahan. Cukup asupan hidup sebatang pisang sebagai bekal survival.

Kulit pisang umpamakan seperti edisi hidup di bumi

ini; sikapi bersahaja sepentingnya ari saja. Isi pisang perlambang intisari prestasi ukhrowi; fokus serius menyiapkan akses-aset kemampuan. Raih & pilih opsi ini. Took the moment, book the event.

Ambil resiko terkecil meski tak kebagian bancakan keduniawian. Pilihlah jatah akhirat yang pahalanya berlipat sejahtera selamat..

Its time to fight, Kid. Need more spirit to wait. Until the last moment; happily end of endurance.

Sumber : https://www.facebook.com/gusadhim/posts/10220107454182505

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *