MAKAH
MAKAH (Madrasah Tsanawiyah al Mubarokah) adalah lembaga pendidikan formal untuk anak usia 13 s/d 16 tahun atau yang telah lulus dari sekolah dasar. Dalam prosess pembelajarannya, MAKAH menggunakan kurikulum Departeman Agama dipadukan dengan sistem asuhan pesantren, sekolah alam, kelas lingkungan, dan pola belajar terbuka (madrasah open source/MOS).
MAKAH memanfaatkan sumber belajar dari masyarakat dan lingkungan alam sebagai laboratorium sosial pembentuk karakter siswanya.
Prestasi di MAKAH tidak melulu diukur dari catatan akademik dan atau kenaikan kelas semata. Tapi dilihat juga apakah sebagai seorang siswa, mereka bisa menjalankan peran intelektualnya sekaligus fungsi sosialnya sebagai manusia.
Selain ditempa teoritis keilmuannya, siswa MAKAH juga didoktrin tentang kewajiban menjalankan apa yang didapat di kelas sekolahnya. Di MAKAH, siswa betul-betul digodok agar menjadi manusia yang mengerti asal mula penciptaannya, tujuan hidupnya, untuk apa ia diciptakan dan siapa penciptaNYA.
Sejak dirintis tahun 1984, MAKAH telah sukses meluluskan alumni yang bekerja di berbagai sektor pengabdian masyarakat.
Keunggulan versi MAKAH adalah keberhasilan menelurkan lulusan yang bekerja untuk kebersamaan, senantiasa melayani sesama, dan berwawasan hidup dunia akhirat. Untuk itulah sekolah ini menggunakan sesanti “Sekolah Bertaraf Dunia Akhirat”.
Dengan pemberlakuan sistem pembelajaran baru sejak tahun 2010, MAKAH kian berbenah. Diantaranya kurikulum pendidikan diperpadat dengan kegiatan keterampilan, praktik komunikasi berbasis teknologi informasi, disiplin ilmu kepesantrenan, dan hubungan kemasyarakatan.

Kekhusyukan ritual dipadu kesalehan sosial. Menjadi figur santri filantropi yang setia melayani umat dan keilmuannya dapat menjawab persoalan masyarakat

Latihan terbuka menerima perbedaan dalam kehidupan. Siswa MAKAH bersalaman dengan Suster Ignasia dari Puteri Kasih yang live in bersama santri di Ponpes SPMAA
Harapannya, dengan pemberlakuan sistem pembelajaran baru ini, pola pendidikan akan lebih mendisiplinkan siswa, menguatkan karakter keislamannya, dan membuka keluasan wawasannya.
Pada proses hingga tujuan akhirnya, anak-anak MAKAH dikader jadi agen socio-enterpreneur sekaligus santri filantropi yang keilmuannya dapat bermanfaat untuk masyarakat.
Mereka juga dilatih menerima perbedaaan pilihan keyakinan dalam konteks keIndonesiaan. Ikhtiar penyatuan bisa ditempuh melalui aksi kecil yang riil, sederhana, bermanfaat bagi sesama, dan bisa dilakukan siapa saja. Misalnya merawat lanjut usia di asrama panti werdha melalui kegiatan live in bersama.

Siswa MAKAH mengikuti program 'Pelajar Pemantau Pemilu" sebagai bentuk tanggungjawab bermasyarakat dan bernegara

Glory Islamic, alumni MAKAH, saat menjabat Direktur Regional HSP-USAID East Java menyalami Bupati Pasuruan atas prestasi mengurangi angka kematian Ibu & bayi









Entries (RSS)