<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sumber Pendidikan Mental Agama Allah</title>
	<atom:link href="http://spmaa.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spmaa.or.id</link>
	<description>Ingat Allah, Ingat Mati dan Kasih Sesama</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jun 2011 04:27:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Belajar Mentoring Bersama SPMAA dan Universitas Indonesia</title>
		<link>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2011/bulan/06/tanggal/07/738/belajar-mentoring-bersama-spmaa-dan-universitas-indonesia.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2011/bulan/06/tanggal/07/738/belajar-mentoring-bersama-spmaa-dan-universitas-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 04:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan dan Pesantren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[LAMONGAN ~ Laporan pandang mata hari ke-5 &#8220;Belajar Mentoring Bersama Santri SPMAA &#38; Mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia&#8221;, Jumat pagi (3/6).
Hari terakhir program diisi kegiatan pelayanan kemanusiaan. Setelah 4 hari berbagi praktik-praktik terbaik manajemen ilahiah, mereka diberi kesempatan ujicoba komunikasi perubahan perilaku (BCC/behavour change communication) dengan cara memandikan plus merawat survivor wanita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAMONGAN</strong> ~ Laporan pandang mata hari ke-5 &#8220;Belajar Mentoring Bersama Santri SPMAA &amp; Mahasiswa Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia&#8221;, Jumat pagi (3/6).</p>
<p><a href="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2011/06/242651_2075465492130_1409739066_2496338_2566319_o.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-739" title="Dua mahasiswi Magister Manajemen FE-UI sedang praktik merawat Lansia dan wanita penghuni shelter PENGAWAL (Perlindungan Anak Wanita Lansia) di komplek asrama Ponpes SPMAA" src="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2011/06/242651_2075465492130_1409739066_2496338_2566319_o-199x300.jpg" alt="Dua mahasiswi Magister Manajemen FE-UI sedang praktik merawat Lansia dan wanita penghuni shelter PENGAWAL (Perlindungan Anak Wanita Lansia) di komplek asrama Ponpes SPMAA" width="199" height="300" /></a>Hari terakhir program diisi kegiatan pelayanan kemanusiaan. Setelah 4 hari berbagi praktik-praktik terbaik manajemen ilahiah, mereka diberi kesempatan ujicoba komunikasi perubahan perilaku (BCC/behavour change communication) dengan c<span style="display: inline;">ara memandikan plus merawat survivor wanita dan lansia yang ada di shelter PENGAWAL (pusat perlindungan anak, wanita, lansia) SPMAA.</p>
<p>Peserta putri merawat survivor di asrama putri, sedang peserta putra berkegiatan di asrama putra. Mereka belajar kasih memanusiakan manusia tanpa imbuhan SARA. Agar keilmuan kampus di menara tinggi bisa membumi di pelataran pertiwi. Supaya bisa merasakan kehidupan yang ditakdirkan berbeda dari kondisi normal umumnya.</p>
<p>&#8220;Rangkaian kegiatan ini sesuai pesan Prof. Rhenald pada kami, bahwa teman-teman mahasiswa pasca sarjana UI yang ikut program Mentoring butuh diajak praktik melayani sesama manusia. Supaya tumbuh jiwa kasih dan cinta kepada sesama manusia, terutama peduli pada fakta Indonesia,&#8221; jelas Gus Hafidh, Pembina Yayasan SPMAA</p>
<p>Enam belas mahasiswa pasca sarjana Magister Manajemen FE-UI yang diampu Prof. Rhenald Kasali ini bersama ratusan santri SPMAA mencoba belajar jadi manusia yang berfigur penggembala. Harapannya, semoga bila ditakdirkan memimpin keluarga Indonesia nantinya, mereka tak akan segan turun tangan dan biasa tidur berdesakan di tengah jelata rakyatnya.</p>
<p>Live in five days, long life learning. Mengusap air mata saudara sebangsanya dengan tulus semata, bukan karena pencitraan kamera. Membagi cerita survivor Indonesia bersama potensi syukur Nusantara. Mengamalkan Pancasila tanpa kata.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2011/bulan/06/tanggal/07/738/belajar-mentoring-bersama-spmaa-dan-universitas-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibuku Sarah, Maria, Khadijah &amp; Masyrifah</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/22/731/ibuku-sarah-maria-khadijah-masyrifah.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/22/731/ibuku-sarah-maria-khadijah-masyrifah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 01:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[
Perkenalkan ibu saya, Ibu Guru Hj. Masyrifah, seorang wanita perkasa di jaman ini. Beliau menyabung nyawa untuk proses kelahiranku bersama sepuluh bersaudara. Dari sentuhan kasih perjuangannya bersama sang suami sejak 1961, telah mentas ribuan anak dan keluarga yang bermasalah secara soial kemudian dirawat, dibesarkan, dididik, dan dimandirikan sebagai manusia seutuhnya.

Kini di komplek asrama pesantren yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 16px; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Perkenalkan ibu saya, Ibu Guru Hj. Masyrifah, seorang wanita perkasa di jaman ini. Beliau menyabung nyawa untuk proses kelahiranku bersama sepuluh bersaudara. Dari sentuhan kasih perjuangannya bersama sang suami sejak 1961, telah mentas ribuan anak dan keluarga yang bermasalah secara soial kemudian dirawat, dibesarkan, dididik, dan dimandirikan sebagai manusia seutuhnya.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Kini di komplek asrama pesantren yang sahaja, beliau mukim bersama lima ratusan santri dari usia balita hingga lanjut usia. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan beragam masalah sosial yang menimpa: anak telantar, para janda, korban kekerasan rumah tangga, eks napi,<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">survivor</em><span class="Apple-converted-space"> </span>traumatis, gelandangan psikotik, penyandang cacat, fakir miskin, dan lanjut usia terasing dari keluarganya.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Mereka semua yang masuk kategori 8<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">asnaf<span class="Apple-converted-space"> </span></em>itu diasuh oleh ibuku dengan pendikan dan kasih kekeluargaan sebagaimana beliau menyayangi putera-puteri sendiri. Semua pelayanan tanpa memungut pembiayaan.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Sejak kecil ibuku mengajari kami indahnya berbagi dan keniscayaan sebuah pengorbanan dalam meraih derajat kebaikan. Saya ingat saat kelas satu sekolah dasar dulu, suatu siang dipanggil beliau lalu diperkenalkan dengan seseorang ibu. “Gus, ini Umi Nuriyati. Saudaraku sekaligus ibumu,” kata ibuku sambil tersenyum tulus. Sejak itu, aku resmi memiliki dua ibu.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Beberapa tahun setelahnya, baru ibuku cerita bahwa beliau yang mengambil inisiatif keputusan bermadu itu. Beliau ingin meringankan tugasnya sebagai ibu dan isteri yang harus selalu kuat mendampingi suami. Caranya dengan merelakan kedudukannya dibagi bersama isteri yang lain.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Ibuku sekaligus mendidik kami sejak dini tentang keikhlasan memberikan sesuatu yang paling kita cintai demi perjuangan agama dan meraih ridhoNYA. “Aku ingin meniru sifat dewasa Ibu Sarah yang dengan ikhlas melamar Hajar untuk berbagi cinta sejati bersama Ibrahim kekasih ilahi,” kata beliau. Ibuku sedewasa Sarah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Seringkali ibuku ditinggal pergi tugas oleh Abi dalam rentang yang lama. Dengan bersemangat dan tanpa mengeluh, ibuku membesarkan kami semua. Terutama saat awal-awal perjuangan, Abi sempat diamankan selama empat bulan dalam tahanan karena fitnahan oknum tokoh agama yang hasud. Teror, intimidasi, makian, hingga ancaman pembunuhan menjadi menu ibuku sehari-hari.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Beliau senantiasa memotivasi dirinya dengan tangis penghiburan, “Aku belum tentu bisa setegar Hajar yang ditinggal sendirian di tengah padang pasir bersama si kecil Ismail. Sedangkan aku masih punya kawan berbagi di sini.” Beliau meneladani Ibu Hajar dalam kesetiaan bersuami, kesabaran ber-<em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">survival,</em><span class="Apple-converted-space"> </span>keterampilan<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">parenting skill<span class="Apple-converted-space"> </span></em>sekaligus pelopor<em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">single parent.<span class="Apple-converted-space"> </span></em>Ibuku setegar Hajar, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Kami ingin membangunkan rumah untuk tempat istirahat yang layak, tapi ibuku menolak. Beliau lebih memilih tinggal di perumahan komplek asrama yang mulai lapuk dimakan usia. Buat ibuku, itu sudah jauh melebihi standar perumahan Ibu Khadijah r.a.,<em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><span class="Apple-converted-space"> </span>ummul mukminin<span class="Apple-converted-space"> </span></em>ibu ideologis dan teladan kita semua.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">“Ibu Sayyidah Khadijah hingga wafat menghuni tenda pengungsian yang darurat. Jika aku menempati rumah melebihi Ibu Khadijah itu, bagaimana tuntutanku nanti di akhirat?. Cukuplah doaku seperti doa Ibu Asiyah yang minta dibangunkan rumah surga disisiNYA,” kata beliau. Aku menangis haru mendengar penuturannya. Ibuku sesahaja Khadijah, sesederhana Asiyah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Tentang pengorbanan dan konsistensi perjuangan, ibuku selalu mendongengi kami dengan epos kepahlawanan Ibu Masyitah. Dengan iringan lagu “Tukang Suri” yang<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">nggegirisi ati</em>, beliau ingin kami sekeluarga bersama-sama berjuang hingga wafat jelang kemenangan tiba, yakni di akhirat nanti. Lirik patriotik itu masih terngiang di telinga kami.<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">“Ibu Masyitah pahlawan puteri. Mbelo agomo direwangi mati&#8230;”</em><span class="Apple-converted-space"> </span>Ibuku biasa menyanyikan lagu itu sambil membelai rambut kami dengan linang air mata doa. Kami pun ikut menangis teringatnya.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Saat kami semua merasa letih lahir batin karena beratnya perjuangan, ibuku selalu menguati, “Nak, kita ini belum apa-apa dibanding kisah Ibu Masyitah yang menceburkan diri dalam panas air belanga bersama keluarganya demi konsistensi beragama.” ujar beliau. Ibuku setabah Masyitah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">April 2005, ibuku berangkat ke Aceh menyusul kelima puteranya yang bekerja sebagai relawan. Selama satu bulan, ibuku berkeliling Banda Aceh, Calang, Meulaboh, Nagan Raya hingga Aceh Utara. Membagi bantuan, menghibur para janda, menguati mental<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">mbah-mbah<span class="Apple-converted-space"> </span></em>lansia, menginap di tenda pengungsian bersama anak-anak dan wanita. Di 19 jam perjalanan laut antara Banda Aceh Meulaboh, hari itu 16 April. Sambil berpegangan di bibir perahu motor yang kecil, beliau berkata lirih, “Gus, hari ini ulang tahun pernikahanku dengan Abi.” Ibu mengenang tersenyum, sementara aku menangis terkagum.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Lalu ibuku melanjutkan, “Aku belum apa-apa dibanding Ibu Maria. Beliau pernah bersama Nabi Isa hanya makan daun-daunan selama berhari-hari di Gunung Lebanon. Tak ada yang dimakan, tak ada teman atau keluarga yang menguati perjuangan. Sementara aku di tengah ombak laut ganas ini, meski jauh dari suami, tapi masih ada sampeyan anakku yang menemani dan kita sehat berkecukupan. Ibu Maria sendiri tanpa suami membesarkan Nabi Isa, sedang aku punya suami tercinta saat mengasuh sampean semua.” Aku menangis bersyukur mendengarnya. Ibuku sekhusyuk Maria, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Menu makanan ibuku seragam seperti anak-anak asuh di asrama. Nasi, kuah, dan lauk seadanya. Karena kami semua masak dari dapur umum yang sama. Bermaksud ingin menyehatkan dan menggembirakan ibuku, kami sering hendak masak menu tambahan seperti kerupuk dan sambel.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Tapi dengan lembut beliau mengingatkan, “Sudahlah cukup ini saja. Ini lebih dari menu makanan Ibu Fatimah sekeluarga. Ibu Fatimah biasa makan sebutir kurma dan segelas air saja. Malah pernah tiga hari tiga malam kelaparan karena tidak ada yang dimakan. Apakah kita tidak dosa jika makan melebihi menu puteri Rasulullah itu?,” Kami pun tersadar dan belajar. Ibuku seneriman Fatimah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Dalam kecerdasan ibuku luar biasa. Saat mengumpulkan bahan presentasi atau mencari referensi kitab suci, ibukulah termpat bertanya. Kami sekeluarga sepakat menjuluki “Ensiklopedi Kitab Suci” untuk beliau. Untuk hal ini, ibuku memotivasi kami, “Ayolah kita cerdas dan berilmu manfaat sebagaimana Ibu Aisyah. Sejak belia semangat belajarnya luar biasa. Ibu Aisyah yang cantik dan terlahir dari keluarga bangsawan rela jadi jelata berjuang bersama Rasulullah demi pencerdasan umatnya.” Ibuku secerdas Aisyah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Ibuku sangat kuat fisiknya. Dalam kesibukan 24 jam, beliau masih konsisten dengan disiplin pengamalan ibadah sunnah. Selain sholat fardlu 5 waktu, sholat sunnat ala Rasul tak pernah terlewat. Dalam sujud sholat<span class="Apple-converted-space"> </span><em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">tahajjud<span class="Apple-converted-space"> </span></em>dan setiap doa pagi<em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">dhuha,<span class="Apple-converted-space"> </span></em>ibuku selalu menyebut nama-nama keluarga semua. Agar kami anak-anaknya selalu sehat, kuat, penuh rahmat, diberi syafaat Allah dan Rasulullah Muhammad dunia akhirat. Ibuku mencintai Rabb-NYA, sebagaimana Rabiah yang gandrung kepada TuhanNYA. Ibuku sezuhud Rabiah, Ibuku Masyrifah.</p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"><br style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /></p>
<p style="margin: 0px; padding: 0px; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Kisah-kisah wanita perkasa di jamannya selalu menjadi inspirasi penyemangat ibuku. Kedewasaan Sarah, ketegaran Hajar, kesetiaan Asiyah, konsistensi Masyitah, ketabahan Maria, kesahajaan Khadijah, kesabaran Fatimah, kecerdasan Aisyah, kezuhudan Rabiah, menjadi menu cerita kami sekaligus energi penguat perjuangan beliau yang kini menapak usia enam puluh lima. Tangis doa dan titip rinduku selalu untukmu Ibu. Ibuku Sarah. Ibuku Hajar. Ibuku Asiyah. Ibuku Masyitah. Ibuku Maria. Ibuku Khadijah. Ibuku Aisyah. Ibuku Fatimah. Ibuku Rabiah. Ibuku Masyrifah. Ummi Nuriyati.<em style="font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;">Robbanaghfirlanaa waliwaa lidayya warhamnaa kamaa robbayaanii shaghiiraa.</em></p>
<p></span><br class="Apple-interchange-newline" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/22/731/ibuku-sarah-maria-khadijah-masyrifah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menebar Senyum Semar</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/16/694/menebar-senyum-semar.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/16/694/menebar-senyum-semar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 14:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[

Dalam mitologi budaya  pewayangan Jawa, tersebutlah tokoh Semar dengan karakter dan perannya  yang bersahaja. Tokoh manusia setengah dewa nan jenaka ini biasanya  muncul bersama ketiga punakawan di jelang akhir pagelaran. Semar  memiliki ciri yang mudah dikenali: mulut mesem mengulum senyum. Bukan senyum sembarangan. Karena senyumnya mengandung filosofi makna penghiburan sekaligus keprihatinan.
Majelis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Dalam mitologi budaya  pewayangan Jawa, tersebutlah tokoh Semar dengan karakter dan perannya  yang bersahaja. Tokoh manusia setengah dewa nan jenaka ini biasanya  muncul bersama ketiga punakawan di jelang akhir pagelaran. Semar  memiliki ciri yang mudah dikenali: mulut <em>mesem</em> mengulum senyum. Bukan senyum sembarangan. Karena senyumnya mengandung filosofi makna penghiburan sekaligus keprihatinan.</p>
<p>Majelis pembaca sekalian, kali ini saya ajak Anda semua untuk memaknai pentingnya kehadiran Semar. Di tengah arus <em>goro-goro</em> yang mengaduk negeri ini dalam pusaran kebingungan dan <em>tukar padu</em> tak tentu, mari berikhtiar memanggil Semar. Kita berharap agar  senyumnya segera keluar. Caranya, kita coba hadirkan figur dan karakter  Semar dalam diri kita masing-masing. Belajar menjiwai karakter Semar.</p>
<p>Ya, Anda saya ajak untuk mengenal senyum Semar, menirunya, dan menghembuskannya ke sekeliling kita. Senyum Semar yang terlihat <em>neriman</em>,  samar penuh keprihatinan dan melahirkan inspirasi kebaikan. Semar yang  berjiwa penggembala, bersifat pamong, dan senantiasa ikhlas melayani  manusia sebagai wujud kebaktian <em>abdi ngenger marang Gusti</em>.</p>
<p><em>Tanggap ing Sasmita</em>.<strong> </strong>Agar  bisa tersenyum seperti Semar, kita kudu melatih kepekaan jiwa. Akal dan  perasaan ditempa melalui latihan peka sosial, cermat menyikapi fakta  lingkungan dan cerdas membaca isyarat perubahan alam. Untuk menjaga  kecerahan kalibrasi monitor diri, rajinlah sholat, seringlah puasa, dan  kuat tirakat. <em>Tanggap ing Sasmita </em>mengharuskan kita selalu buka mata, buka telinga, jembarkan pikiran, perkaya ruang jiwa. <em>Wani laku prihatin cegah dhahar lawan guling</em>.</p>
<p>Hasilnya  kita akan terlatih membaca tanda dan pesan kehidupan. Muncul sifat  ringan tangan menolong tanpa diminta. Senantiasa mendahulukan kebutuhan  umat sebangsa sebelum memikirkan diri dan keluarganya. Segera taubat  menyadari dan menghentikan kesalahan sebelum dikirimi peringatan dan  bencana hukuman. Kehalusan perasaan tumbuh dengan baik. Perubahan cukup  dikulik dengan sentilan kritik, bukan dengan <em>pencerengan </em>penuh makian dan adu fisik.</p>
<p>Dengan <em>Tanggap ing Sasmita, </em>komunikasi  pemimpin dan rakyat akan terpelihara sehat. Hubungan terbangun saling  menguatkan sebagaimana teladan kepemimpinan Semar terhadap ketiga  punakawan: Petruk, Gareng dan Bagong. Tidak ada saling menuding. Yang  ada justeru refleksi kebersamaan. Tidak ada saling klaim kebenaran,  karena masing-masing punakawan jujur menginsyafi kekurangan dan berani  mengakui kesalahan. <em>limpat pasang ing grahita. </em>Para punakawan konsisten dalam ucapan dan perbuatan. Semuanya saling melayani dengan ikhlas.</p>
<p><em>Hamemayu Hayuning Bawana</em>.  Mengikuti jejak Semar dalam menjalani amanah manusia sebagai wakil  Allah, menjadi khalifah pelestari bumi. Pada tataran vertikal, hubungan  kita dengan Tuhan berjalan selaras sebagaimana fitrah awalnya. Yakni  kita lahir turun ke bumi hanya mengabdi layani perintah Ilahi. Pada  tataran horizontal, hubungan kita dengan manusia dan alam lingkungan  selalu bermula dan berakhir dengan senyuman membersyukurkan.</p>
<p>Dalam disiplin ekologi,  <em>hamemayu hayuning bawono</em> adalah praktik <em>sustainable development</em>. Sebuah konsep “pembangunan berkelanjutan” yang kerap dibicarakan para pegiat isu lingkungan Dalam ilmu pedagogi <em>hamemayu hayuning bawono </em>merupakan bukti kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan iman seorang insan. Di ranah hukum, <em>Hamemayu hayuning bawono</em> akan menghadirkan keadilan dan supremasi hukum terjamin aman.</p>
<p>Dua  teladan karakter Semar itu disimbolkan dalam bentuk wayang yang  berwajah tersenyum sekaligus menangis. Di balik senyuman Semar, tersamar  siluet tangisan. Di dalam senyum pengharapan, terkandung tangis doa  keprihatinan mendalam. Bibir Semar mengulum senyum, namun mata hatinya  mengurai tangis.</p>
<p>Figur Semar adalah personifikasi para  Rasul, Nabi dan Wali. Tokoh Semar adalah ciri kepemimpinan  para utusan  Tuhan. Senyum dan tangis Semar adalah wujud cinta sekaligus perhatian  kasih pemimpin terhadap umatnya yang terdiri dari manusia, tumbuhan,  hewan serta lingkungan. Kasihnya begitu besar dalam mengemban misi  amanat sebagai Sang Juru Selamat.  Dalam keluarganya, Semar adalah Bapa  penggembala yang mengasihi sekaligus Guru pendidik yang meneladani.</p>
<p>Kita  adalah anak-anak Semar. Kita adalah punakawan yang bersama-sama Semar  akan menggelar babak akhir lakon kehidupan. Di saat ini, kita akan  mementaskan sesi “Semar Mbabar Jati Diri”. <em>Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan</em>.  Sebuah lakon revolusi perubahan yang bersih dari kepentingan duniawi,  merdeka dari ego ragawi, dan jauh dari ambisi pribadi.  Lakon revolusi  itu adalah berburu ampunan Allah dan 99% derajat di akhirat.</p>
<p>Inilah <em>tiwikrama</em> kita, punakawan anak-anak Semar dalam menyikapi kondisi agama, bangsa dan negara. <em>Ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu. </em>Menghilangkan rasa cinta harta benda dan sifat <em>kedonyan</em>.  Fokus akhirat sambil lalu memikirkan dunia. Mengalah untuk menang.  Berani jujur mengakui kesalahan dan saling berbagi permaafan. Demi  kemanusiaan, tidak <em>eman</em> memberikan harta yang paling dicintai. Membuang sifat amarah dan dendam.</p>
<p>Agar  derajat budi pekerti kita tetap unggul sebagaimana fitrah manusia  mulya. Agar sempurna hidup kita: selamat di dunia yang sementara ini dan  sejahtera di akhirat nanti. Bersama Semar, kita perbanyak tangis taubat  dan senyum jalin seduluran di dunia ini. Bersama Semar pula kita akan  tersenyum selamanya dalam ampunan dan ridho Ilahi di akhirat nanti.  Aamiin.</p>
<p>﻿</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/16/694/menebar-senyum-semar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SPMAA Roadshow Internet Keluarga di 4 Kota</title>
		<link>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2010/bulan/12/tanggal/11/718/spmaa-roadshow-internet-keluarga-di-4-kota.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2010/bulan/12/tanggal/11/718/spmaa-roadshow-internet-keluarga-di-4-kota.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 08:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan dan Pesantren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[
SPMAA – Yayasan SPMAA bekerjasama dengan komunitas blogger TuguPahlawan.Com (TPC) Surabaya menggelar kampanye Internet Keluarga (IGA) di 4 kota kabupaten di Jawa Timur. Kegiatan roadshow ini didukung oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Telkom Divre V Jawa Timur.

Menurut Gus Hafidh, Pembina SPMAA, acara ini diadakan sebagai jawaban atas maraknya fenomena penggunaan internet yang keliru. Terutama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- p { margin-bottom: 0.21cm; } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"><strong>SPMAA – </strong><span style="font-weight: normal;">Yayasan SPMAA bekerjasama dengan komunitas </span><em><span style="font-weight: normal;">blogger </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">TuguPahlawan.Com (TPC) Surabaya menggelar kampanye Internet Keluarga (IGA) di 4 kota kabupaten di Jawa Timur. Kegiatan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">roadshow </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">ini didukung oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Telkom Divre V Jawa Timur.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<div id="attachment_719" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/Lamogan3.jpg"><img class="size-medium wp-image-719" title="Lamogan3" src="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/Lamogan3-300x225.jpg" alt="Gus Hafidh berkampanye internet keluarga di Lamongan" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gus Hafidh berkampanye internet keluarga di Lamongan</p></div>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">Menurut Gus Hafidh, Pembina SPMAA, acara ini diadakan sebagai jawaban atas maraknya fenomena penggunaan internet yang keliru. Terutama di kalangan pelajar, remaja dan anak-anak. Faktor maraknya penyalahgunaan internet ini selain karena pergaulan, juga karena dipengaruhi ketidakmengertian keluarga dalam memanfaatkan internet bagi anggota komunitasnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">“Kita memahami bahwa internet memiliki sisi negatif yang mengkawatirkan. Tapi jika kita bisa mengarahkannya dengan baik, internet bisa memberi manfaat banyak. Terutama untuk pencerdasan dan peningkatan produktifitas keluarga. Makanya lewat kegiatan ini, kita lakukan advokasi peran keluarga sebagai pemanfaat internet yang sehat. Karena keluarga adalah filter terbaik dalam menjaga anggota komunitasnya dari sisi buruk internet,” ujar Gus Hafidh</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Surabaya terpilih sebagai kota pertama yang disinggahi kegiatan ini. Bertempat di Gedung Dekranasda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">roadshow</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> pertama IGA dilangsungkan bersama seratusan peserta, Rabu siang (8/12). Kegiatan dipandu oleh Mas Novi dari TPC dan Gus Hafidh dari SPMAA. Peserta yang datang mewakili ibu rumah tangga, pekerja sosial, pelajar, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan pegiat pendidikan dari Surabaya. Beberapa peserta pelajar mengaku datang luar kota seperti Gresik Lamongan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<div id="attachment_720" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/pacitan.jpg"><img class="size-medium wp-image-720" title="pacitan" src="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/pacitan-300x225.jpg" alt="Tim SPMAA-IGA mendampingi ibu-ibu jamaah pengajian di Pacitan" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sosialisasi IGA bersama ibu-ibu jamaah pengajian di Pacitan</p></div>
<p>Mereka nampak antusias dan bersemangat mengikuti seluruh sesi teori hingga materi praktik. Dengan 25 unit laptop pinjaman IGI dan koneksi gratis dari Speedy, kegiatan selama hampir 3 jam ini berlangsung semarak dan membersyukurkan. Saat pentupan acara, Tim SPMAA-IGA membagikan pin kepada peserta sebagai kenang-kenangan sekaligus pengikat komitmen dalam pemasyarakatan internet keluarga di komunitasnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">Esoknya paginya, Kamis pagi (9/12), kota Pacitan mendapat giliran. Acara yang digelar di Rumah Pintar Pacitan ini bekerjasama dengan FK-PSM (Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat Jawa Timur) Kabupaten/Kota Pacitan. Sebanyak 25 peserta hadir mewakili unsur pekerja sosial, guru, tokoh agama, dosen, relawan Rumah Pintar, pegiat perpustakaan, pelajar dan ibu rumah tangga.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebelum acara di Rumah Pintar, Tim SPMAA-IGA, sempat melatih ibu-ibu jamaah pengajian di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Sesaat setelah sholat berjamaah Subuh, Gus Hafidh bertaaruf dan diskusi dengan mereka tentang tujuan ke Pacitan. Dari diskusi itu, seorang wakil dari jamaah meminta Tim SPMAA-IGA menggelar pengajian. Materinya </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ngajinya </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">tentang internet keluarga dan pemanfaatannya  bagi penunjang </span></span><em><span style="font-weight: normal;">amar makruf nahi munkar.</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Pengajian dadakan ini diikuti 20-an peserta ibu-ibu rumah tangga.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
<div id="attachment_721" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/sumenep13.JPG"><img class="size-medium wp-image-721" title="sumenep13" src="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/12/sumenep13-300x225.jpg" alt="Suasana sosialisasi SPMAA-IGA di warnet Rajanet Sumenep" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana sosialisasi SPMAA-IGA di warnet Rajanet Sumenep</p></div>
<p>Sepulang dari Pacitan, <em><span style="font-weight: normal;">roadshow </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">IGA berikutnya diadakan di Lamongan. Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Turi menjadi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">host </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">kegiatan ini. Bertempat Di Aula Masjid Ruhullah, bakda sholat Jumat (10/12), acara diikuti 50-an peserta terdiri dari para santri, pelajar sekolah dasar, tokoh masyarakat dan ibu rumah tangga. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="JUSTIFY"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kabupaten Sumenep menjadi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">finish</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dari rangkaian </span></span><em><span style="font-weight: normal;">roadshow </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">ini. Acara digelar di warnet Rajanet, Sabtu (11/12), dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore. Peserta sebanyak 70 orang mewakili pekerja sosial, guru, pelajar, mahasiswa, organisasi wanita, ibu rumah tangga dan tokoh agama/masyarakat.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/headline/tahun/2010/bulan/12/tanggal/11/718/spmaa-roadshow-internet-keluarga-di-4-kota.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fathul Indonesia: Kemenangan Tanpa Kekuasaan</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/09/698/fathul-indonesia-kemenangan-tanpa-kekuasaan.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/09/698/fathul-indonesia-kemenangan-tanpa-kekuasaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 08:03:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa Fathul Makkah yang ditandai dengan masuknya  Rasulullah ke Makkah berlangsung aman. Gemuruh kalimat takbir, tahlil,  tahmid, tasbih, dan istighfar bergetar membahana seiring panji tauhid  yang berkibar merambati penjuru kota. Lembah  Makkah terperangah  menyambut seorang yang pernah diusir, dikejar dan hendak dibunuhnya:  Muhammad bin Abdillah.
Sampailah Rasulullah di kompleks  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa <em>Fathul Makkah</em> yang ditandai dengan masuknya  Rasulullah ke Makkah berlangsung aman. Gemuruh kalimat takbir, tahlil,  tahmid, tasbih, dan istighfar bergetar membahana seiring panji tauhid  yang berkibar merambati penjuru kota. Lembah  Makkah terperangah  menyambut seorang yang pernah diusir, dikejar dan hendak dibunuhnya:  Muhammad bin Abdillah.</p>
<p>Sampailah Rasulullah di kompleks  pelataran Ka&#8217;bah. Beliau memasuki Baitullah kemudian membersihkan  patung-patung batu dari dalamnya. Setelah itu beliau berdiri di pintu  Ka&#8217;bah sambil memandangi penduduk Makkah yang sejak awal berharap cemas  menunggu pidato kemenangan Rasulullah.</p>
<p>Alhamdulillah, atas  kuasa kasih Allah, pidato Rasulullah memuaskan harapan banyak orang,  terutama kafir musyrik Quraisy. Dengan budi agungnya, Rasulullah  mengampuni semua penduduk yang selalu berlaku kejam terhadap kaum Muslim  di masa lalu. Mereka dibebaskan dari tuntutan dari hukuman. Tak  terkecuali Abu Sufyan dan keluarganya yang menyambut gembira keputusan  pengampunan Rasulullah itu.</p>
<p>Peristiwa <em>Fathul Makkah</em> dengan runtuhnya pamor Abu Sufyan dan kawan-kawan dapat dimaknai  sebagai kemenangan raya. Galibnya sang pemenang akan menduduki tempat  itu dan mematok berbagai macam tanda kekuasaan di daerah taklukan. Para  pemimpin wilayah akan dilengserkan lalu ditawan sebagai pecundang yang  kalah perang.</p>
<p>Namun Rasulullah disucikan dari nafsu ambisi  kekuasaan yang melenakan.  Ketokohan Abu Sufyan  dibiarkan tidak  dipreteli. Bahkan beliau menjamin siapa saja yang berlindung di rumah  Abu Sufyan akan aman.  Pun karena misi Rasulullah tidak bermotif  pengawetan citra ketokohan, beliau hanya sebentar saja mukim di Makkah,  selanjutnya kembali menetap hingga wafat di Madinah.</p>
<p><em>Fathul Makkah</em> menyuguhkan pelajaran buat kita semuanya tentang kemenangan tanpa motif  kekuasaan. Kemenangan bukan diniati sebagai tujuan akhir penguasaan  pihak yang kuat terhadap yang lemah. Kemenangan itu tidak diawali obsesi  penaklukan dan atau dominasi politik sebuah kelompok terhadap kelompok  lain. Kemenangan itu tidak boleh dikotori nafsu <em>fait accompli, </em> klaim pemaksaan kebenaran ideologi agar semua orang tunduk mengikuti.</p>
<p>Rasululah telah meneladani kita semuanya, terutama Muslim Indonesia. Melalui <em>Fathul Makkah</em>,  beliau menyejarah sebagai pemimpin yang qonaah dan tak tergiur korupsi  imamah. Bisa saja beliau memanfaatkan kedudukannya untuk meraup harta  sebanyak-banyaknya untuk mendandani anak isterinya, untuk memfasilitasi  perjalanannya, untuk memperbaiki perabot rumahnya, untuk mengangkat  citra wibawa kepemimpinannya, untuk melengkapi koleksi baju dinasnya,  atau dengan alasan yang terkesan<em> mubah: “</em>demi kepentingah dakwah”.</p>
<p>Tapi  semua itu tidak dilakukan. Beliau tetap dengan kesahajaannya. Hingga  wafat, Rasulullah sangat-sangat jelata, walau kedudukan beliau saat itu  setara dengan Raja Persia dan Kaisar Roma. Melalui teladan kepemimpinan  Rasulullah, maka tesis Lord Acton bahwa <em>power tends to corrupt </em>menjadi gugur dan tidak menemukan kesesuaiannya.</p>
<p>Kiranya  kita perlu bertanya dan refleksi kembali, terutama bagi saudara kita  yang  saat ini sedang berpolitik, sedang berdagang, berproses meraih  jabatan, dan atau sedang mengharap kedudukan. Apakah niat awal hingga  tujuan akhirnya ingin ikhlas berbagi kebaikan ataukah menurutkan ambisi  duniawi dan godaan kekuasaan?</p>
<p>Apapun partai yang  dikendarai, apapun proses politik yang dilalui, apapun bisnis yang  digeluti, apapun jenjang karir yang dilakoni, koreksi kembali niatan  awal kita. Jika masih tertanam loba harta dunia, maka sadaralah. Jika  masih terdapat setitik nila rasa ingin berkuasa, maka undur dirilah.  Jika terbersit niat ingin merasakan nikmat memerintah, maka hentikanlah.  Jangan diteruskan. Karena itu keliru.</p>
<p>Loba harta dunia <em>(hubbud-dunya)</em> akan memaksa kita terseret sistem ribawi, hukum rimba, koruptif dan  manipulatif. Obsesi kekuasaan akan memenjarakan nurani kita dalam  kerangkeng kejahatan dan menjauhkan diri dari cahaya iman. Nafsu ingin  memerintah akan membuat perangai kita semena-mena dan mengabaikan  peringatan kebaikan. Semuanya itu bermaura pada sifat buruk: enggan  sedekah, abai terhadap si miskin, kemaruk kaya, haus puja-puja, dan  super ego yang menistakan norma keadilan.</p>
<p>Ayolah kita  berhijrah dan berubah sebagaimana teladan Rasulullah. Seruan ini berlaku  bagi penulis pribadi dan semua warga negara dunia, khususnya masyarakat  Indonesia. Belajarlah dari Fathul Makkah. Kemenangan bukan bertujuan  mencari dan mengawetkan kekuasaan. Bahwa kemenangan itu hanyalah proses  yang semata dihadiahkan Tuhan. Kemenangan yang tanpa mengalahkan  martabat kemanusiaan. Kemenangan yang berselera keadilan dan dinikmati  oleh semua insan. Kemenangan itu adalah tangis  pertobatan, menginsyafi  kesalahan dan sujud pengakuan kekuasaan semata hanya milikNYA  Sebagaimana definisi kemenangan yang difirmankan Allah dalam Al Quran  sesaat setelah peristiwa Fathul Makkah:</p>
<p>“<em>Apabila telah  datang pertolongan Allah dan kemenangan; dan engkau melihat manusia  berbondong-bondong masuk agama Allah; maka bertasbihlah dengan memuji  Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-NYA. Sungguh, Dia Maha Penerima  taubat”. (QS. 110 : 1-3)</em></p>
<p>Maknai secara nyata  peringatan Tahun Baru Hijriyah 1432 kali ini sebagai kemenangan semua  insan. Rangkaikan dengan renungan Hari Anti Korupsi yang diperingati  tepat tanggal 9 Desember ini. Hiduplah sederhana, hindari sifat boros  yang berlebihan. Jangan mau dirayu setan untuk berebut kedudukan,  kebanggaan, kehormatan dan kekuasaan duniawi, karena itulah awal peluang  korupsi. Mari wujudkan kemenangan tanpa motif kekuasaan dan harta benda  dunia. Mari bertobat mengakui kesalahan. Mari bersujud mengakui  kekuasaanNYA semata. Iringi selalu aktifitas kita dengan doa pujian  harap restu bimbinganNYA. Itulah kemenangan kita semua.  Fathul  Indonesia !!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/09/698/fathul-indonesia-kemenangan-tanpa-kekuasaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuku Sapi Katutan Tali</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/02/701/tuku-sapi-katutan-tali.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/02/701/tuku-sapi-katutan-tali.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 08:03:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Pengasuh pesantren kami, Bapa Guru MA. Muchtar, seringkali mengakhiri  tulisannya dengan kalimat “Pemikir Hidup dan Kehidupan” di atas nama  dan tanda tangan beliau. Konsistensi ini seiring dengan keajegan beliau  dalam mengajak kami para santri untuk belajar hidup yang seimbang, adil  dan berkelanjutan. Meraba secara matematika, logika, dan doktrin agama  tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengasuh pesantren kami, Bapa Guru MA. Muchtar, seringkali mengakhiri  tulisannya dengan kalimat “Pemikir Hidup dan Kehidupan” di atas nama  dan tanda tangan beliau. Konsistensi ini seiring dengan keajegan beliau  dalam mengajak kami para santri untuk belajar hidup yang seimbang, adil  dan berkelanjutan. Meraba secara matematika, logika, dan doktrin agama  tentang kebutuhan sandang, pangan, papan di dua alam nyata: Akhirat dan  dunia.</p>
<p>Satu di antara analogi beliau dalam menggambarkan  kehidupan akhirat dunia yang terus kami renungi adalah &#8216;Tuku Sapi  Katutan Tali&#8217;<em>. </em>Kalimat lengkap yang biasa beliau ucap adalah <em>“nek tuku sapi pasti katutan tali, tapi nek tuku tali gak mungkin katutan sapi”.</em> Terjemahan bebasnya, kalau seorang membeli sapi pasti dapat seutas  tali, tapi kalau seseorang beli seutas tali tak mungkin akan dapat  seekor sapi. Analogi “tuku sapi katutan tali” ini merujuk fakta  transaksi di pasar-pasar hewan pada umumnya, yakni jual beli seekor sapi  selalu sepaket dengan tali yang mengikat di lehernya.</p>
<p>Rupanya analogi itu bermakna sepadan dengan sebuah anjuran dalam Al Quran, <em>“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah </em><em>kepadamu,  tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah  (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan  janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai  orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas: 77) </em></p>
<p>Pesan  dari Bapa Guru dan ayat Al Quran itu jelas. Bahwa kita harus fokus  memikirkan kebutuhan hidup di akhirat dengan konsekwensi pasti:  kehidupan dunia pasti akan terfikir juga. Logika dan hitung-hitungan  matematikanya, masa hidup di akhirat lebih lama dan tidak ada lagi  kesempatan berusaha bekerja bila kita kekurangan sandang, pangan, papan.  Sehingga ia lebih pantas diprioritaskan untuk dipikirkan secara serius  dan perlu perhatian khusus.</p>
<p>Sedang kehidupan dunia yang  kita jalani, kita rasa, kita lihat, dan kita alami saat ini lebih pendek  waktunya. Kebutuhan langsung bisa dirasakan dengan indera fisik yang  kita punya. Sehingga sudah pasti, tanpa diminta dan secara naluri  manusiawi, kebutuhan dunia akan kita upayakan pemenuhannya.</p>
<p>Fakta  kemudian membuktikan bahwa apa yang disampaikan Bapa Guru itu bisa  dilakukan dengan cara sederhana, sealur logika, manusiawi, bersistem,  terorganisir, dan diakui oleh semua. Analogi itu bukan cuma teori yang  jauh panggang dari api. Kiasan “tuku sapi katutan tali” bukan hanya  utopia yang mustahil perwujudannya.</p>
<p>Alhamdulillah atas  pertolongan kasih Allah, melalui pesantren gratis yang telah dirintis  beliau sejak tahun 1961, Bapa Guru telah melaksanakannya. Hingga kini,  kami bersama lima ratusan santri mulai dari balita hingga lanjut usia,  dari Aceh hingga Papua, bermukim di asrama secara cuma-cuma. Setiap hari  kebutuhan pendidikan, akomodasi, konsumsi, jaminan kesehatan, bimbingan  kerohanian, hingga tempat pemakaman disediakan tanpa menarik iuran.</p>
<p>Selain  kegiatan karitas berbasis asrama itu, sebagai NGO berbasis pesantren,  program pengembangan masyarakat yang dirintis beliau juga banyak membawa  manfaat. Diantaranya melalui tiga program utama: pendidikan,  kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan.</p>
<p>Apa yang  diajarkan Bapa Guru mencambuk kami para santri dan golongan cendekia  agama yang biasanya terlena dengan hafalan kitab-kitab kajian. Jujur  kita sering mengira, bahwa dengan pengakuan syahadat, seperangkat tertib  sholat, puasa, 2.5% zakat, gelar haji atau ustadz kiranya sudah cukup  memenuhi kebutuhan akhirat. Padahal semua itu bukan jaminan. Belum lagi  bila ritual wajib itu nanti terserang virus pamrih yang merusak nilai  ganjaran. Maka lenyaplah jatah akhirat kita.</p>
<p>Janganlah  menyanggah dengan berdalih kita sudah beramal akhirat. Karena jika  dihitung logika matematika, apa yang telah, sedang dan akan kita  usahakan di dunia, sangat jauh melampaui apa yang telah kita usahakan  untuk akhirat. Padahal ayat di atas jelas memerintahkan kita untuk  “prioritas mendahulukan kebutuhan akhirat, sambil mengurus kebutuhan  dunia”. Hasilnya akan berwujud perbuatan baik terhadap sesama dan  keadilan sosial bagi seluruh penghuni bumi.</p>
<p>Nah, ini  praktiknya seringkali terbalik. Kebutuhan dunia siang malam dipikirkan,  urus akhirat belakangan. Akhirnya terjadilah lomba hedonis dan  konsumerisme massal. Senanglah aku, matilah kamu. Korupsi membudaya  karena ingin mengenyangkan kebutuhan pribadinya di dunia saja. Tak  pernah terlintas ingin memenuhi kebutuhan akhiratnya. Ini menimpa bukan  kepada orang awam saja, bahkan kepada yang terkenal cendekia agama.</p>
<p>Secara  kritis Allah juga menggugat pengakuan iman dan kepercayaan akhirat   kita dengan firmanNYA di QS. 2 : 8, “Dan diantara manusia ada yang  berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Padahal  sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Juga terdapat  pada QS. 30: 7, “Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan  dunia; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.</p>
<p>Sebagai  pertanyaan pembuktian sederhana, “jika hari ini kita sudah sarapan  sepiring nasi di dunia, sudahkah kita, sudahkah kita siapkan sarapan  sepiring di akhirat sana, dengan cara memberi sarapan tetangga kita yang  miskin dan atau gelandangan yang kelaparan?”</p>
<p><em>Tuku sapi katutan tali.</em> Bila fokus mengurus akhirat, urusan dunia pasti terbawa. Karena yang  diteladani dan diajarkan Bapa Guru seperti itu, maka usaha beliau  membawa manfaat sosial yang besar. Hasil kerja halal yang diperoleh  beliau bukan dinikmati pribadi atau sekeluarga saja. Tapi dimanfaatkan  untuk kemanusiaan, untuk kebersamaan. Program kepesantrenan tidak hanya  ngaji dan sibuk adu teori, tapi segera aksi, aksi, aksi. <em>Qaulan wa fi&#8217;lan.</em></p>
<p><em>Tuku tali gak mungkin katutan sapi</em>.  Bila sibuk mengurus dunia saja, akhirat seringkali terlupa. Bukti dari  analogi ini dengan mudah kita temukan. Kasus korupsi, kriminalitas,  tingkah asusila, perbuatan amoral, meningkatnya angka kemiskinan,  semakin acuhnya para pemimpin, kenakalan remaja, dan seterusnya adalah  bukti bahwa kita fokus mengurusi dunia saja. Kita luput memikirkan  urusan dan tanggung-gugat peradilan akhirat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/12/tanggal/02/701/tuku-sapi-katutan-tali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Usah Menunggu Pemerintah</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/25/705/tak-usah-menunggu-pemerintah.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/25/705/tak-usah-menunggu-pemerintah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 08:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh bersyukur dan menggembirakan saat melihat rukun guyubnya  masyarakat Indonesia dalam membantu sesama saudaranya yang diterpa  bencana. Berbagai institusi yang membuka kotak rekening amal laris  diserbu para penyumbang dana sosial. Lembaga kemanusiaan sebagai wakil  amil penyalur bantuan kewalahan mendistribusikan kebutuhan para korban.
Para  peduli, komunitas filantropi, dan relawan bersemangat mengajukan diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh bersyukur dan menggembirakan saat melihat rukun guyubnya  masyarakat Indonesia dalam membantu sesama saudaranya yang diterpa  bencana. Berbagai institusi yang membuka kotak rekening amal laris  diserbu para penyumbang dana sosial. Lembaga kemanusiaan sebagai wakil  amil penyalur bantuan kewalahan mendistribusikan kebutuhan para korban.</p>
<p>Para  peduli, komunitas filantropi, dan relawan bersemangat mengajukan diri  untuk diberangkatkan sebagai bala keselamatan. Tak ketinggalan peran  insan pemberitaan dalam menyuplai informasi kegawatdaruratan. Semuanya  bersinergi sesuai potensi yang dimiliki. Walau di sana-sini masih sering  menyisakan kekurangan, fenomena ini patut disyukuri.</p>
<p>Di  sisi lain, kita menyaksikan kelambanan pemerintah dalam menjalankan  peran dan kapasitas tanggungjawab pelayanan. Terbelit birokrasi yang  rumit, kendala DIPA dan proses pencairan kelewat <em>ngirit, </em>atau mungkin karena hierarki atasan-bawahan yang <em>rigid, </em>membuat kiprahnya kalah gesit. Apalagi jika kita mengingat satire parodi selama ini yang ramah dengan kinerja pemerintah, <em>“kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?”</em></p>
<p>Walau mereka mengaku sudah<em> </em>bekerja setiap hari sesuai <em>tupoksi</em>,  tetap saja kesan lamban dan hasil kerja yang jauh dari harapan sulit  dihilangkan. Pada kasus kebencanaan Merapi dan Mentawai, kita sempat  dengar PMI diplesetkan singkatannya menjadi <em>Pemerintah Mandiri Indonesia</em> sebagai sindiran atas buruknya koordinasi peran dan lambannya respon para pemimpin negara.</p>
<p>Berita  terbaru, penanganan Sumiati dan Komalasari yang teraniaya sampai mati  di Arab Saudi membuat kita prihatin mengurut dada. Nasib TKI kita  seperti anak ayam ditinggal lari induknya. Wakil rakyat yang kita  amanahi juga jauh panggang dari api. Alih-alih investigasi, visanya  malah tertahan di kedutaan sehingga mereka telantar berhari-hari belum  berhasil masuk Saudi. Kita semua jadi <em>mbatin </em>sedih campur geli, “Duh, Gusti. Gerangan <em>guyon</em> apa lagi ini? Sarapan lelucon kok tersaji sama setiap hari.”</p>
<p>Maka  lewat tulisan ini saya ingin memotivasi pribadi penulis sendiri dan  tentunya pembaca semua. Setidaknya sekadar oksigen penghiburan di tengah  menipisnya udara pengharapan. Bahwasanya potensi kekuatan kita masih  ada dan peluang keselamatan negeri ini tetaplah terbuka. Belajar dari  praktik kebersamaan urun peduli saat bencana hari-hari ini, sungguh kita  layak optimis sembari terus bersinergi strategis mutualis. Inilah  sebenarnya wujud nyata nilai adiluhung dan warisan agung khas berselera  manusia Indonesia. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.</p>
<p>Sebagai tindak lanjut dari kebersamaan ini, mari segera kita tempuh langkah-langkah penguatannya.</p>
<p><strong><em>Pertama, </em></strong>perkuat  basis visi dan keteladanan aksi. Mulai dari pendidikan sejak dini di  tingkat keluarga dan kerabat terdekat. Berikan contoh bagaimana kita  berbuat menyikapi kesulitan tanpa saling menyalahkan. Visi kita adalah  perwujudan nyata nilai Pancasila seutuhnya.</p>
<p>Di sinilah  distribusi peran, koordinasi pekerjaan, keterampilan komunikasi, saling  pengertian, berbagi penguatan, dan fungsi kontrol dapat  dilatih-praktikkan. Bila di tingkat terkecil keluarga sudah bisa,  tularkan keterampilan itu di level atasnya. Misalnya di lingkungan rukun  tetangga atau tingkat desa.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> pertahankan konsistensi dan ketahanan gerakan. Jangan sampai kehabisan energi, semangat di posisi <em>start</em> lalu pingsan di tengah jalan. Tantangan keberlanjutan inilah yang  sering membuat kita kalah. Makanya dukungan doa spiritual, kekuatan  mental, dan tentu saja kekayaan modal sosial menjadi sangat penting  peranannya.</p>
<p><em><strong>Ketiga, </strong></em>bersiaplah  menjadi orang asing di negeri sendiri. Karena niat baik yang telah dan  sedang kita galakkan belum tentu ditanggapi seperti yang kita ingini.  Bisa jadi dari lingkungan terdekat muncul penolakan dan penggembosan.  Atau mungkin ada pihak berwenang yang merasa lahannya kita rebut, lalu  berusaha menghalangi karena takut. Jaman edan <em>wolak-walike jaman. </em>Kita yang waras  berotak sehat malah bisa-bisa diteriaki gila dan perlu diruwat.</p>
<p>Maka antisipasi itu dengan Bismillaah. Jika sampai terjadi, gunakan strategi <em>creative minority</em>.  Berani setia melawan arus keumuman yang keliru. Konsisten dalam  kebenaran walau hanya satu tim kecil bersama keluarga. Defensif aktif  sambil terus berusaha mengajak individu/komunitas lainnya. Kita bisa  menerapkan pola kebiasaan <em>positive deviance. </em>Hidup menyimpang positif di tengah kerumunan lingkungan yang berbudaya negatif. Maka kuat dan bertahanlah.</p>
<p><em><strong>Keempat, </strong></em>jangan  menunggu pemerintah. Pentingkan keswadayaan, kemandirian, dan inisiatif  cerdas menyiasati keterbatasan. Biarlah pemerintah cukup menjadi  fasilitator pemantau saja. Kasihanilah mereka karena beban kerja  berlebihan sehingga sering nasib kita luput terperhatikan. Sudah cukup  jangan penuhi lagi ruang kerja dan konsentrasi pikiran mereka dengan <em>uneg-uneg </em>kita yang <em>ngewuhi</em> ini. Bukan berarti kita <em>mutung. </em>Tapi ini lebih kepada upaya <em>survival sosial</em> menghindari keputusasaan massal.</p>
<p>Maka  jadilah kita ini seperti siswa di kelas pembelajaran orang dewasa yang  terlatih tampil ke depan tanpa diiming-iming jajanan. Begitupun di saat  kita menghadapi situasi sulit. Jika mengandalkan pemerintah susah, maka  ayo bergerak mencari celah. Jangan merajuk ke pemerintah apalagi berniat  menyerah. Jauhi aksi liar, strategi <em>grusa-grusu </em>ala bar-bar  apalagi demonstrasi bakar-bakar. Silakan kita beroposisi, asal gerakan  yang kita tampakkan harus elegan dan tanpa kekerasan. Sesanti perjuangan  ini, “Menyadarkan bukan Mengalahkan”</p>
<p>Kita keliru besar  kalau cuma bisa saling menuding kening, adu kuat debat, bersedekap  tangan dan berebut melempar cibiran. Apalagi kalau cuma lomba unjuk gigi  di televisi untuk persiapan duduk di kursi 2014 nanti. Karena kalau  cuma begitu, anak kecil juga bisa ngotot <em>ngaku </em>dia yang benar melulu.</p>
<p>Sekali  lagi bencana dan kesulitan di negeri ini menampakkan pelajaran buat  kita semuanya. Masih ada peluang merajut kebersamaan tanpa aba-aba dari  pemerintah. Tentu kita tidak mau hanya karena saling menunggu lalu kita  perani <em>Waiting for Godot</em>-nya Samuel Beckett di ranah nyata ini.  Ayolah kita semua bergerak gegas, berfikir cerdas, berjejaring luas,  serta bersinergi ikhlas. Bismillaah. Laa haula wa laa quwwata illa  billaah</p>
<p>Bila pemerintah kita anggap salah, biarlah itu  menjadi refleksi mereka sendiri. Sementara sambil terus mengingatkan  kebenaran dengan kesabaran, kita kudu terus jalan. Tak perlu menunggu  kiprah pemerintah dan pesan “arahan dari atasan”, atau kita akan mati  pelan-pelan dalam keputusasaan.</p>
<p>﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/25/705/tak-usah-menunggu-pemerintah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aspirasi Buat Pak Haji</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/18/710/aspirasi-buat-pak-haji.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/18/710/aspirasi-buat-pak-haji.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 08:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=710</guid>
		<description><![CDATA[Apa kabar hari ini Pak Haji? Setelah kemarin secara syar&#8217;i lunas  menunaikan syarat, rukun dan wajib haji? Bagaimana perasaan Pak Haji  setelah beberapa hari ini menghirup udara tanah suci? Berapa banyak  pelajaran kehidupan dan ilmu kemanusiaan yang Pak Haji dapatkan?
Alhamdulillah,  berkat rahmat Allah, kami di Indonesia tetap bisa memantau perkembangan  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa kabar hari ini Pak Haji? Setelah kemarin secara syar&#8217;i lunas  menunaikan syarat, rukun dan wajib haji? Bagaimana perasaan Pak Haji  setelah beberapa hari ini menghirup udara tanah suci? Berapa banyak  pelajaran kehidupan dan ilmu kemanusiaan yang Pak Haji dapatkan?</p>
<p>Alhamdulillah,  berkat rahmat Allah, kami di Indonesia tetap bisa memantau perkembangan  informasi dari Pak Haji. Melalui tulisan ini, kami jamaah warga Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ingin menitip aspirasi buat Pak Haji  dan kawan-kawan yang saat ini ada di dua kota suci: Makkah dan Madinah.</p>
<p>Pertama,  kami berharap Pak Haji bisa rukun menggandeng potensi dan menyerukan  pesan-pesan perdamaian insan kepada sesama Muslim dari seluruh dunia  yang ada di sana. Sudahi saja dikotomi syiah-sunni, wahabi-salafi,  sesat-moderat, radikal-liberal, tradisional-intelektual, dan jargon  propaganda agitatif lainnya.</p>
<p>Masih banyak peran kerjasama  dan revolusi pribadi yang bisa dibangun untuk manfaat umat. Misalnya  menarik investor penanaman modal akhirat (PMA) dari para aghniya&#8217;  di  sana, agar peduli kepada kami kaum ardzalun yang ada di sini. Syukur  jika kembali ke tanah air nanti, Pak Haji bisa berubah jadi murni  filantropis, tak egois, tidak sempit berfikir politis, chauvinis,  apalagi narsis. Setelah pulang nanti, kami berharap Pak Haji bisa ikhlas  siap setiap saat berkorban melayani kebutuhan agama, bangsa dan negara  ini.</p>
<p>Kedua, Pak Haji berniat ibadah dengan ihram, yakni  mengenakan baju putih polos tanpa jahitan melambangkan kesucian tujuan.  Kami berharap niat putih itu bisa terjaga selamanya. Perbanyak dan  sesering mungkin mengingat Allah melebihi ingatan Pak Haji kepada kami  sekeluarga di sini. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al Quran QS.  2:200.</p>
<p>Janganlah di sana terlalu meluangkan waktu untuk  euforia saja, misalnya: alih-alih bawa oleh-oleh untuk kami, malah  menurutkan nafsu belanja berlebihan. Lebih baik jatah living cost dan  kelebihan ongkos Pak Haji dibawa pulang lalu disedekahkan kepada warga  NKRI yang membutuhkan. Masih banyak warga di tanah air yang buta huruf,  kekurangan gizi, hak hidupnya terabaikan, tak mampu berobat, survivor  bencana alam, yang itu butuh sentuhan peduli Pak Haji.</p>
<p>Ketiga,  dalam masa wukuf kemarin, kami berharap Pak Haji telah membaca catatan  dosa-dosa pribadi untuk selanjutnya segera ditaubati. Ingatlah kakek  buyut kita Nabi Adam dan Ibu Hawa yang pertobatannya dikisahkan dalam  QS. 7:23. Cermati pula pertobatan Rasul Yunus di QS. 21: 87, Rasul Musa  di QS. 28: 16,  Rasul Nuh di QS. 71:28, juga doa taubat di QS. 3:147.</p>
<p>Beliau  itu moyang manusia, para Rasul yang ma&#8217;shum dan uswah hasanah bagi kita  semua, masih merasa keliru dan bertaubat. Alangkah pongah kami dan Pak  Haji yang derajatnya masih manusia biasa, bila merasa berbuat benar saja  dan enggan mengakui kesalahan.</p>
<p>Renungi juga doa  Khalilullah Ibrahim di QS. 2:128, tentang permintaannya agar dibimbing  menjadi seorang Muslim dan ditunjukkan cara ibadah yang terarah. Beliau  peletak dasar manasik Haji saja, masih minta diarahkan. Sedang kita  sering ngawur menentukan ibadah sendiri dengan dalih ijtihad dan alasan  keringanan. Maka kami mengajak Pak Haji, mari bersama giatkan  pertaubatan dan tekad perubahan di setiap detik akfititas kita. Jadikan  hari wukuf di Arafah itu, retreat harian yang bisa menerangi hati Pak  Haji.</p>
<p>Keempat, Pak Haji sudah merasakan thawaf  mengelilingi Ka&#8217;bah. Maknai putaran thawaf sebagai kehendak kuat untuk  bersujud bersama semesta. Ikutilah gerakan takbir, tasbih, istighfar,  tahlil dan tahmid dalam harmoni orbit tauhid. Memurnikan pelayanan  kepada Tuhan. Jadikanlah diri Pak Haji sebagaimana ketundukan pembantu  kepada juragan. Seluruh waktu, tenaga, pikiran, harta dan jiwa  diserahkan tanpa keluhan.</p>
<p>Maka kami berharap setelah  pulang nanti, Pak Haji tidak suka menuruti nafsu lagi. Jangan melakoni  satire hikayat “kaji tomat”. Yakni berangkat haji tobat, sepulang haji  kumat. Tapi turutilah perintah Allah dalam segala fungsi sosial  kehidupan Pak Haji.</p>
<p>Setelah menyandang gelar “H” nantinya,  lebih pedulilah; lebih dermawanlah; lebih merendahlah; lebih ingat  akhirat; hati-hati menyaring rejeki; lebih ramah lingkungan; hiduplah  sederhana; lebih sabar dan ikhlaslah; lebih konsistenlah dalam beragama,  usahakan kerja halal dan hasilnya untuk kebersamaan. Jangan cuma  bekerja untuk menggendutkan rekening pribadi dan kemakmuran keluarga Pak  Haji saja.</p>
<p>Kelima, setelah sa&#8217;i antara Shafa dan Marwa,  mudah-mudahan Pak Haji mengerti bahwa masih banyak saudara-saudara Pak  Haji yang mengalami kesusahan. Meski saat ini proses sa&#8217;i dilaksanakan  di lantai dingin dan tertutup dari sengatan matahari, tetaplah ingat  bahwa Pak Haji sedang menapaktilasi perjuangan Ibu Hajar dan si kecil  Ismail. Sehingga dengan mengingat itu, kepedulian Pak Haji lebih terasah  sepulangnya ke Indonesia nanti. Posisikan Pak Haji sebagai Ibu Hajar  dan kami kaum papa di sini sebagai Ismail. Sehingga dengan begitu, Pak  Haji selalu memiliki tekad kuat untuk menolong tanpa pamrih dan tidak  merasa lebih-lebih.</p>
<p>Keenam, setelah tahallul dan  menyembelih kurban, kami berharap Pak Haji mampu menanggalkan  kepentingan pribadi dan mendahulukan prioritas kebutuhan umat. Karena  makna tahallul dan kurban adalah penyerahan total kepada perintahNYA.  Ingatlah bahwa perjuangan mendapatkan nikmat akhirat, harus ditebus  dengan pengorbanan di dunia. Banyak-banyaklah bersedekah untuk bekal  akhirat. Hingga saat wafat nanti, tiada lagi harta dan kepemilikan yang  tertinggal percuma di dunia.</p>
<p>Ketujuh, setelah melempar  jumrah, maka kami berharap Pak Haji  mampu meneladani Nabi Ibrahim dalam  melawan tipuan musuh syetan. Terutama dalam konteks kekinian, ajakan  syetan yang paling  sering adalah takut miskin karena Pak Haji hendak  sedekah. Lihat QS. 2:268. Pak Haji harus melawan tipuan syetan itu,  sebagaimana Nabi Ibrahim melempari syetan yang menggoda beliau agar  urung mengorbankan putera yang dicintainya. Pak Haji kudu berani  mengorbankan harta yang dicintai untuk kepentingan umat, mencerdaskan  kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.</p>
<p>Kami  tahu syarat Pak Haji berangkat ke tanah suci adalah Islam, dewasa,  berakal, merdeka, dan mampu berswadaya. Sehingga aspirasi kami ini  kiranya dapat dilaksanakan dalam waktu segera saja. Mudah-mudahan  keberangkatan Pak Haji ini bukan sekedar rekreasi jasmani apalagi cuma  update peci. Dari peci hitam ke peci putih. Tapi lebih dari itu, ada  niat perubahan revolusioner nan radikal: dari Muslim setengah-setengah  menjadi Muslim Kaaffah.</p>
<p>Itulah makna rites de passage yang  sebenarnya.  Sebuah perjalanan peralihan kehidupan dalam melaksanakan  perintah Allah, meneladani jejak Rasul, serta efek perubahannya terhadap  fungsi sosial dan survival manusia.</p>
<p>Setelah membaca  aspirasi ini, semoga Pak Haji terketuk memperjuangkan nasib TKI di Arab  Saudi. Syukur jika kembali ke tanah air nanti, Pak Haji serombongan  berkenan datang menengok  membantu saudara sebangsa di Wasior, Mentawai  dan Merapi. Dengan begitu, Pak Haji akan mendapat pahala sekaligus  manfaat berlipat, ganjaran pribadi dan kemaslahatan umat. Semoga saja  Malaikat akan menyematkan gelar ganda: Haji Ritual dan Haji Sosial.</p>
<p>Tentu  kami dan Pak Haji berharap agar dunia akhirat bisa dimasukkan Allah  dalam peringkat manusia terbaik melalui  tawashou, tabayyun, titip  aspirasi dan kritik. Labbaik Allaahumma Labbaiik.﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/18/710/aspirasi-buat-pak-haji.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Tanpa Nisan</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/11/714/pahlawan-tanpa-nisan.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/11/714/pahlawan-tanpa-nisan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 08:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah dalam sebuah ekspedisi jihad Rasulullah, ada seorang prajurit  Muslim yang bertempur dengan hebatnya. Ia menerjang palagan dengan  penuh keberanian. Senjatanya berkelebatan ke kiri dan ke kanan  mengakibatkan pasukan lawan bertumbangan. Semangatnya seperti nyala api  yang tak mau berhenti. Badannya berpeluh darah musuh. Kerelawanannya  luar biasa. Akhirnya prajurit itu gugur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah dalam sebuah ekspedisi jihad Rasulullah, ada seorang prajurit  Muslim yang bertempur dengan hebatnya. Ia menerjang palagan dengan  penuh keberanian. Senjatanya berkelebatan ke kiri dan ke kanan  mengakibatkan pasukan lawan bertumbangan. Semangatnya seperti nyala api  yang tak mau berhenti. Badannya berpeluh darah musuh. Kerelawanannya  luar biasa. Akhirnya prajurit itu gugur karena luka-luka yang  dideritanya.</p>
<p>Para sahabat yang melihatnya dibuat kagum dan  terkesima. Mereka saling bergumam bahwa sang prajurit pasti pahlawan  syahid dan surga akan menerimanya. Ketika hal ini disampaikan ke  Rasulullah, para sahabat dibuat lebih kaget lagi. Karena menurut  Rasulullah, sang prajurit tidak mati syahid. Ia justeru mati sebagai  pendosa yang kurang sabar dengan perjuangannya. Setelah diselidiki,  ternyata prajurit itu meninggal bunuh diri. Karena tak kuat menahan  derita akibat luka, ia memotong urat nadi tangannya hingga maut  menjemput.</p>
<p>Kisah elegi dari hadis ini memberikan pelajaran  buat kita semua yang sekarang sedang berjihad memperjuangkan  kemanusiaan. Bahwa bagaimanapun niat baik itu, tetap dibutuhkan  keihklasan dan kekuatan bimbinganNYA sampai akhir. Kerelawanan aksi  peduli dan meriahnya rilis berita saja belum cukup untuk menorehkan  catatan baik bahwa kita layak dianggap sang pejuang. Apalagi  disejarahkan sebagai seorang pahlawan. Karena pada akhirnya, hasil final  catatan Tuhan yang menentukan: <em>terutama saat kita wafat, apakah ditetapkan sebagai pemenang atau pecundang</em>.</p>
<p>Hari-hari  ini kita menemukan banyak berita tentang relawan di medan  kedaruratkebencanaan. Mereka gigih membantu tanpa pamrih. Kemarin kita  warga Indonesia  memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang pengorbanan  para pejuang revolusi kemerdekaan. Dua hal itu, yakni kerelawanan dan  kepahlawanan menjadi relevan kita renungkan. Terutama untuk refleksi  pribadi penulis yang saat ini ditugaskan menjadi relawan. Benarkah apa  yang sudah kita lakukan dan kita anggap baik sejauh ini layak  diapresiasi atau bahkan dicatat sebagai pahlawan?</p>
<p>Belajar  dari hadis di atas, renungan ini menemukan relevansinya lagi. Bila  dipikir, kurang apa lagi pengorbanan prajurit ini. Ia sudah berperang di  sisi Rasulullah. Merelakan jiwa raganya untuk kepentingan agama Allah.  Sebagai relawan ia ikut menjemput maut, bertempur dan gugur demi  cita-cita mulia. Tapi hanya karena kurang sabar menahan kesakitan ia  kehilangan kesempatan menjadi pemenang. Karena kurang cakap mengelola  emosinya dan kurang ikhlas mental, amal sosialnya tertolak. Takdirnya  malah menetapkan ia mati <em>su&#8217;ul khotimah </em>di saat akhir. <em>Na&#8217;udzu billaahi min dzaalik.</em></p>
<p>Ya,  kita memang patut dan wajib bersyukur karena Allah masih menghadiahi  semangat kesukarelawanan di saat marak ketidakpedulian manusia terhadap  sesamanya. Kita perlu menjaga elan kesetiakawanan di tengah egoisme  barbarian yang melanda dunia. Kita harus menumbuhkembangkan kader-kader  &#8217;sosialis beriman&#8217; di tengah gencarnya iklan kapitalisme profan yang  menyengsarakan. Kita butuh keberlanjutan aksi-aksi peduli nan manusiawi  untuk melestarikan nilai-nilai kebenaran di bumi ini.</p>
<p>Namun di atas semua niat baik itu, ada hal penting yang tidak boleh kita abaikan. <em><strong>Pertama,</strong></em> nilai ilahiah yang melandasi kerja-kerja kita. Bahwa pekerjaan kita ini  kudu didasari oleh prinsip kemanusiaan murni. Menolong dengan semangat  kasih sesama tanpa membedakan SARA. Prinsip itu merujuk sifat Allah yang  <em>Ar-Rahman (Pengasih) </em>dan <em>Ar-Rahiim (Penyayang)</em>. Hanya  karena atas namaNYA, kita bekerja sukarela. Semoga dengan pekerjaan  kemanusiaan ini, kita tertulari dan diberkati sifat kasih sayangNYA. <em>Bismillaahirrahmaanirrahiim</em></p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>kewaspadaan  menghadapi musuh ghaib setan yang beroperasi di hati kita. Setan dengan  kelihaian muslihatnya bisa dengan mudah menyusupkan perasaan bangga  berlebihan dan godaan <em>ujub riya&#8217;</em> di setiap aktifitas kita.  Sifat itulah yang dapat merusak kesucian amalan baik dan dicatat sebagai  dosa syirik. Ini yang mesti kita prihatini. Apalagi bila kita berani  meninggalkan keluarga, karir dan pekerjaan demi kerja kemanusiaan,  ajakan setan agar kita terbujuk pamrih kian berlebih.</p>
<p>Kadang  karena saking pandainya setan, rasa pamrih itu tidak sampai terucap,  tapi cuma terbersit di hati. Namun itu sudah cukup mengurangi keikhlasan  amalan. Mari kita waspadai secara jeli dan sejak dini. Jangan sampai  kesukarelawanan kita menjadi percuma karena terpengaruh bisikan setan  yang mengajak <em>riya&#8217;.</em></p>
<p><em><strong>Ketiga,</strong></em> niat jihad investasi penanaman modal akhirat. Bahwa apa yang kita  lakukan semata berharap derajat 99 % di akhirat berupa ridho dan  ampunanNYA. Makanya di setiap detik aktifitas kemanusiaan kita, iringi  dengan konsentrasi dan kekuatan doa agar pelayanan kita diterima  olehNYA. Seraya kita berharap bakti kasih peduli kita bisa bermanfaat  untuk kemaslahatan umat dunia akhirat. Amal baik kita dicatat tanpa cela  dan bisa kita tuai kelak di kehidupan selanjutnya.</p>
<p>Jadikan  semangat kesukarelawanan dan refleksi hari Pahlawan sebagai  misi awal  mengembalikan fitrah penciptaan insan. Memanusiakan manusia,  mengagamakan agama, mengimankan iman. Semoga sampai di akhir tujuan,  kita akan tercatat sebagai <em>mukhlasin </em>yang bekerja <em>lillaahi ta&#8217;ala</em>.  Kita dicatat wafat tanpa membawa dosa. Meski kita dimakamkan tanpa  penghormatan, tanpa tembakan salvo ke udara, dan tanpa tanda  penghargaan, pada akhirnya kita telah menang perang. Mudah-mudahan kita  disemayamkan oleh Tuhan sebagai pejuang kebenaran: seorang pahlawan  tanpa nisan.</p>
<p>Sikakap, Kepulauan Mentawai, 11/11/10</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/11/714/pahlawan-tanpa-nisan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Bencana Biasa</title>
		<link>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/09/685/bukan-bencana-biasa.html</link>
		<comments>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/09/685/bukan-bencana-biasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 18:49:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusadhim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spmaa.or.id/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Gus Adhim
Saat gempa dan tsunami meratakan wilayah Serambi Mekah dengan tanah, kita semua kaget terperangah. Seolah tak percaya bencana sengeri itu bisa menyapa Indonesia. Setelah tsunami itu, bencana berlangsung bak parade yang panjang bersambung. Tak pernah berhenti hingga kini. Kecelakaan transportasi laut, darat dan udara seringkali terjadi. Bencana alam memamerkan tarian mautnya. Berproses sistemik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; text-align: left; line-height: 1.5em; color: #333333; margin: 0px;">
<div id="attachment_686" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/11/DSC_0174.jpg"><img class="size-medium wp-image-686" title="DSC_0174" src="http://spmaa.or.id/wp-content/uploads/2010/11/DSC_0174-300x199.jpg" alt="Di lambung kiri KRI 543 Teluk Cirebon" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Di lambung kiri KRI 543 Teluk Cirebon</p></div>
<p>Oleh<strong> Gus Adhim</strong></p>
<p style="margin-top: 0.16in; margin-bottom: 0.16in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 0.17in; widows: 2; orphans: 2;" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Saat gempa dan tsunami meratakan wilayah Serambi Mekah dengan tanah, kita semua kaget terperangah. Seolah tak percaya bencana sengeri itu bisa menyapa Indonesia. Setelah tsunami itu, bencana berlangsung bak parade yang panjang bersambung. Tak pernah berhenti hingga kini. Kecelakaan transportasi laut, darat dan udara seringkali terjadi. Bencana alam memamerkan tarian mautnya. Berproses sistemik dan periodik. Ia meliuk-liuk menubruk ujung barat Indonesia hingga mencapai timur Papua.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;">“</span><em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban berat. Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” (Qs. 99 : 1-3).</span></span></span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Kita pun bertanya-tanya. Kenapa alam seolah marah dan menyerang kita semua. Padahal kita sudah merasa berbuat baik, terjaga dari perbuatan dosa dan sempurna memerankan tugas sebagai hambaNYA. Lalu apa yang keliru dengan semua itu?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebagian saudara kita memahami fenomena bencana ini sebagai teguran keras dari Tuhan atas kerusakan moral yang kian akut dan massal. Sebagian mengartikan murka alam dipicu ulah elit politik yang jahat dan pemerintahan yang korup. Sebagian lagi berasumsi ini semua merupakan proses alamiah dari siklus bumi yang tengah menyesuaikan </span></span></span></span></span><em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">sunnah </span></span></span></span></span></em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">kosmos-nya.</span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Lepas dari asumsi-asumsi itu, saya mengajak kepada kita semua untuk refleksi. Mencoba mengarifi diri atas fenomena bencana ini tanpa menyalahkan pihak lain. Kita mulai dengan mau jujur dan berani menyalahkan diri kita sendiri. Bahwa kita semua sedang melakukan kesalahan. Kita sendirilah yang memanggil bencana itu datang. Kitalah yang menjadi penyebab korban-korban berjatuhan di sepanjang wilayah kedaruratbencanaan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Kita salah karena membiarkan fakta penyimpangan moral dan kejahatan sosial berlangsung di depan mata kita. Kita salah mengabaikan nasib fakir miskin dengan cara menumpuk kekayaan pribadi. Kita salah menafikan keberadaan Tuhan karena waktu habis untuk kesibukan diri memburu rejeki. Kita merebut, mencintai dan menikmati air, udara, tanah, tanaman, sawah, ternak, hasil laut, minyak, hasil pertambangan dan semua ciptaan milik Tuhan, tapi kita sendiri lupa mengingat apalagi mencintaiNYA.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Kita salah karena hanya bisa memaki dan meneliti kesalahan orang lain, mengingkari dosa sendiri yang menutupi mata hati. Kita salah karena tekun berdoa ketika susah, tapi lupa bersyukur ketika memperoleh anugerah. Kita keliru menikmati rejeki halal hanya untuk keluarga saja, tidak sempat berbagi dengan keluarga lain yang telantar dan miskin. Kita salah karena merasa sudah sangat baik sehingga menolak dikritik. Kita salah karena merasa selalu paling benar dan gampang menyalahkan orang lain.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Inilah sesungguhnya bencana luar biasa yang luput dari perhatian kita. Bencana yang sudah berlangsung lama dan memporak-porandakan ikatan kemanusiaan kita. Bencana yang membuat ruang keluarga kita tercerabut dari fungsinya. Bencana yang memaksa kita saling pecicilan dan sibuk mengawetkan pertikaian. Bencana ini bukan bencana biasa. Tapi bencana sangat luar biasa dahsyat. Karena semua manusia menjadi korbannya dan dampak sebarannya merata di penjuru dunia. Bencana itu adalah kelalaian kita menghitung dosa pribadi dan meneliti kesalahan sendiri.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Jika bencana alam masih memungkinkan untuk diawasi dan diantisipasi sejak dini, maka bencana yang menimpa diri kita ini sulit dideteksi. Kalaupun sampai berhasil kita ketahui, biasanya malah kita tutupi karena takut terlihat orang lain. Sekali lagi mari kita berani refleksi jujur mengarifi diri. Belajar bersama bencana yang terus bersambung ini.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Satu pesan yang bisa kita ambil adalah jangan mudah menyalahkan orang lain, apalagi sampai menjadikan korban bencana sebagai pihak tertuduh penyebab turunnya siksa. Karena pada hakikatnya, kita juga punya salah dan dosa yang merangsang bencana itu datang. Meminjam terminologi filsafat Cina, pikiran, ucapan dan tindakan kitalah yang membuat keseimbangan unsur Yin Yang menjadi hilang.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Bencana sepertinya akan terus mengejar hingga kita sadar dan mulai tekun refleksi diri. Berhenti menyalahkan orang lain dan belajar mengarifi kesalahan pribadi. Menganggap bencana sebagai “berita biasa” karena saking seringnya muncul di media, bisa jadi bagian dari proses bencana itu sendiri. Selanjutnya bencana hukuman alam akan menggilir kita di saat kesadaran sudah terlambat memenuhi batas tenggat.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT">
<p style="margin-bottom: 0in; border: none; padding: 0in; font-style: normal; font-weight: normal; widows: 2; orphans: 2;" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Arial, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">ditulis jelang berlayar bersama KRI 543 Teluk Cirebon sambil melambai damai ke arah Mentawai</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spmaa.or.id/kolom/tahun/2010/bulan/11/tanggal/09/685/bukan-bencana-biasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

